Menyembuhkan Luka Karena Kematian

kematian1.jpg

sumber

              Ketika menulis ini, sejujurnya aku sedang begitu merindukan ibuku. Ibuku sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Ya, topik yang aku bahas kali ini memang tak jauh sekitar ibu dan kehilangan. Jangan tanya kenapa, karena memang itulah yang sedang kurasakan sekarang.

Kalian semua, adakah yang pernah mengalami kehilangan ? Adakah yang pernah ditinggalkan oleh seseorang yang paling disayangi karena kematian ? jika aku bertanya bagaimana perasaan kalian sekarang setelah waktu berlalu dan kalian menyadari bahwa sudah tak ada lagi orang yang kalian sayangi ? Bagaimana perasaan kalian ketika tiba-tiba rindu menghampiri dan semua bayangan tentang dia yang pergi kembali menyeruak ? Jawabannya pasti bervariasi. Aku pernah membaca sebuah quote dalam novel remeber when, aku lupa siapa yang mengatakan quote itu tapi si tokohnya ada yang pernah berkata ”Luka kehilangan karena kematian itu tak akan bisa begitu saja dilupakan.”

Aku kurang begitu mengingat detailnya tapi intinya adalah sebuah luka kehilangan karena kematian itu sangat sulit untuk disembuhkan. Perlu waktu lama untuk menyembuhkannya. Dan aku pun mengalami hal ini. Even it has been 3 years. This pain is always same as the day when she passed away. Rasa sakitnya masih sama saat beliau pergi 3 tahun lalu. it menas that i can’t heal myself. sekarang, perasaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Dulu, aku masih sering melakukan pengandaian-pengandaian, seolah menolak takdir. Kali ini aku akan memberitahu hal apa saja yang harus dilakukan untuk mengurangi luka kehilangan tersebut, Berikut diantaranya :

 

  1. Menangislah

Ketika kalian mendapati fakta bahwa orang yang paling kalian sayangi pergi, jangan ragu untuk menangis. Menangislah sampai puas. Menangislah sampai rasanya air mata kalian akan mengering. Luapkan semua kesedihan tersebut lewat tangisan. Jangan menahannya, karena ketika perasaan sedih tersebut terus ditahan justru akan menjadi bom waktu dikemudian hari yang akan meledak suatu saat nanti dan puncaknya akan terus merasa bersalah. Luapkan semua perasaan yang sedang dirasakan saat itu juga.

 

  1. Kematian itu pasti

Setelah meluapkan semua emosi. Mulailah berpikir dan ingat satu hal bahwa kematian itu pasti. Di dunia ini tak ada kata pasti, semua hanya kesempatan-kesempatan yang berlalu lalang dalam hidup kita. Tapi kematian itu pasti. bukankah sudah dijelaskan dalam al-qur’an bahwa semua yang ada di dunia ini milikNya yang sewaktu-waktu bisa saja diambil. Begitu pun orang kita Sayangi. Tak ada yang bisa menghindari kematian. Jika boleh jujur, aku sempat tersadar karena suatu kata yang aku tulis sendiri di sebuah buku harian, isinya begini ”siap atau tidak sekarang atau nanti semua orang pasti akan mengalami kehilangan, atau mungkin suatu hari nanti kita sendirilah yang akan meninggalkan.”

 

  1. Menulislah

Dulu ketika ibuku meninggal aku selalu menulis. Menulis apa saja, menulis semua perasaan yang kurasakan. Aku pun sering menulis surat untuk ibuku. Ya itu memang terlihat gila, karena kutahu ibuku tak akan membacanya. Tapi menurut penelitian, menulis bisa merelease perasaan dan menstabilkan emosi seseorang percaya atau tidak percaya, tapi perlahan-lahan setelah aku sering menulis, perasaanku berangsur-angsur membaik.

Sekian tulisan dariku. adakah di sini yang ingin sharing tentang pengalamannya yang harus menghadapi sebuah kehilangan kematian? atau adakah di sini yang sedang dan masih berusaha menyembuhkan lukanya karena kematian sepertiku ? Silahkan share di kolom komentar,ya!

 

Advertisements