Deathdream

Dua

Dengan susah payah aku membawa bertumpuk-tumpuk buku yang harus aku berikan pada pak Bara. Sekitar tiga puluh buku lebih dan aku harus membawanya sendiri. Bisa kau bayangkan betapa repotnya aku,bukan ? Jam di pergelangan tangan kiriku masih menunjukan jam sepuluh pagi.

Sial. Tak ada kah seorang pun yang bisa menolongku membawa buku-buku ini ?

Diantara kerepotanku, aku terusik dengan suara gaduh yang berasal dari halaman belakang sekolah yang baru saja aku lewati dan tertutupi oleh deretan kelas. Tertarik. Aku pun pergi untuk melihat siapa yang sedang berbuat onar di saat koridor begitu sepi.

“tangkep tas gue !” suara berat seseorang panik. Aku menatapnya lekat. Okeh baiklah rupanya sedang ada seseorang yang mulai merasa bosan di sekolah dan memilih hengkang sebelum jam pelajaran berakhir.

Kutarik tali tas yang hendak ia lemparkan, sebelumnya aku meletakan buku-buku menyebalkan yang kubawa terlebih dahulu di lantai.

“Siapa loe ? Lepas ! berani banget loe ?!”

“Loe mau bolos,ya ? coba gue liat name tag loe!” aku menantang tatapannya, aku tak takut. Sedikit pun. Bukannya aku sok jagoan, hanya saja aku tak suka jika ada seseorang yang membolos, itu sama saja dengan dia membohongi orang tuanya, mungkin dia tak tahu bagaimana susahnya orang tua hanya agar dia bersekolah. Tapi yang diharapkan malah begini kelakuannya.

“Fadil… Fadil…. Oke, gue inget. Dan loe tinggal tunggu surat panggilan buat orang tua wali aja,ya?”

Aku sengaja tersenyum mengejek padanya. Dia terdiam, aku saja heran melihat tingkahnya. Bergegas aku membereskan dan membawa buku-buku yang tadi sempat aku letakkan, dan dengan segera pula aku pergi meninggalkannya. Tapi baru beberapa langkah, kurasakan sebuah tangan mencekal pergelangan tangan kiriku erat, menimbulkan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar seketika.

“Awas aja kalo loe berani laporin kejadian ini sama BP!”

Kutatap ia lekat, dari nada bicaranya jelas sekali jika dia sedang mengancamku.

Dia membalikkan tubuhku dan membuat ku kembali berhadapan dengannya, menggeser tanganku yang membawa tumpukan buku, dan dengan lebih tajam dia berkata “Devlin ! Devlin Natasha Feriawan. Ingat itu!” setelah melakukan itu dia pergi memanjat dinding belakang sekolah dan menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi. Aku hanya mengangkatkan bahu. Tanda bahwa aku tak terlalu peduli pada ucapannya.

***

“ Loe kemana aja dev ?” tanyanya ketika aku mengampirinya, yang membuat tatapan Sarah dan benny mengikuti ekor mata Satria. Aku hanya mengangkat bahu sama sekali tak menanngapi ucapannya.

“kalian tahu engga cowok yang namanya Fadil ?”

“Fadil ? jelas dong kita tahu. Emang kenapa sama Fadil ?” Dengan suara cemprengnya, Sarah begitu antusias menanyakan perihal Fadil.

“Tadi gue lihat dia bolos, terus gue laporin dia ke BP .”

Seketika itu juga mereka bertiga lantas menatap ku, tatapan yang tak bisa kuartikan. Dan detik berikutnya, dengan Heboh benny berkata “wah loe gila, dia tuh bahaya, banyak yang udah kena korbannya dia.”

Benny masih menatapku instens dan kasihan kah ? aku sungguh tak tahu, karena aku tak pandai membaca mimik wajah seseorang. Namun wajah khawatir sangat jelas diperlihatkan oleh satria ketika menatapku.

“emang Fadil itu siapa ? gue enggak kenal.”  Dengan tampang polos aku bertanya, dan mereka hanya mampu menggeleng pasrah kepadaku. Oke baiklah, tak perlu begitu. Dan kau! Tak perlu menganggap ku gadis paling cupu di sekolah. Asal kalian tahu saja aku baru pindah ke sekolah ini selama 2 bulan lalu. Dan rasanya tak perlu lah aku menceritakan alasan kenapa aku pindah ke sekolah ini. Dan satu lagi, temanku di sekolah ini hanyalah satria, sarah, dan benny. Sarah dan Benny merupakan teman satria, dan aku hanya ikut bergabung dengan mereka.

“hey ?! gue kan murid baru di sini jadi wajar kalo gue ga tahu.”

“ oke gue jelasin, Fadil itu terkenal sebagi siswa terbandel di sekolah ini, dia sering berbuat ulah jadi jangan heran ketika loe pernah mergokin dia mau bolos. Dan satu lagu yang paling penting! Dia itu terkenal punya tempramen yang buruk. Siapa saja yang berbuat ulah dengannya pasti akan dia buat perhitungan. Banyak siswa yang udah jadi korbannya dia.”

Dengan antusias Benny menceritakan betapa ngerinya fadil sambil sesekali dia menengguk es lemon teanya.

Mendadak aku bergidik ngeri saat mendengar cerita benny. Dan sial bagiku yang telah berani menantangnya.

“Loe  jangan sampe bikin masalah sama dia!” satria memperingatkan ku.

Astaga entah apa yang akan terjadi padaku besok. Dan rasanya bencana buruk akan menghampiriku besok…

***

Gelap. sunyi. Aku mendapati diriku berjalan tak tentu arah mengelilingi beberapa pohon yang menjulang tinggi dan gelap itu. Dimana kah ini ? hutankah ?

Angin berhembus lembut di tengkukku. Memberikan rasa ngeri tak terkira. Keringat dingin mulai mengucur deras di tubuhku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Entah perasaan apa ini, tapi aku merasakan ada seseorang yang terus mengikutiku, dan beberapa kali itu pula aku harus menolehkan kepalaku ke belakang ataupun ke samping, hanya sekedar berjaga-jaga barang kali ada seseorang yang benar-benar mengikuti.

“Satria… Satria…” sudah beberapa kali aku memanggil satria, namun suara seraknya sama sekali tak menghampiri gendang telingaku. Bunyi burung gagak semakin membuat tengkukku bergidik takut. oh ayolah dimana kah ini ?

Masih dengan kebingunganku, samar aku mendengar langkah kaki yang mendekat, suara langkah kaki yang diseret seolah-olah kakinya sangat sulit untuk digerakkan. Aku berbalik  kebelakang, saat itu juga aku melihat seseorang. Tidak ! sosok misterius ! Ya sosok misterius yang menyeramkan itu mengenakan baju hitam dan celana yang senada dengan warna bajunya,wajahnya ditutupi oleh masker, tak lupa sebuah topi hitam pun bersarang di kepalanya.  Dia membawa cangkul yang diseret dan dibiarkan menyentuh tanah, sehingga menimbulkan suara aneh ketika dia berjalan.

Sret sreeettt sreeettt sreeet sreettt

Aku terpaku. Tubuhku kaku seketika. Aku benar-benar tak bisa menggerakan tubuhku. Keringat dingin semakin deras mengalir. Bahkan rasanya bajuku sudah basah oleh keringat. Jantungku berdetak sangat cepat seperti baru saja turun dari permainan pemacu adrenalin di aman bermain.

“tolong…tolong…”

Sial. Berkali-kali pun aku mencoba berteriak, tapi hasilnya selalu saja nihil, tak ada suara sedikitpun yang keluar dari kerongkonganku. Hanya seperti bisikan lirih dan hembusan nafas lemah. Beberapa kali juga dia mencoba mengayunkan cangkul ke arahku.

Sosok misterius itu semakin mendekati ku, wajahnya tak begitu jelas, hanya terlihat seringai kecil di bibirnya yang tak tertutupi jubah. Jantungku berdegub sangat cepat, tubuhku pun bergetar hebat, peluh sudah membasahi sekujur tubuhku, menetes dari dahi hingga melewati wajahku.

Sial. Apa yang harus kulakukan ? Seseorang kumohon tolonglah!

“AAAAAAAAAA……….P-papah……” Teriakku kencang yang memenuhi seluruh sudut ruangan kamarku. Buram. Itulah yang pertama kuliat ketika mataku terbuka.

Tangan lembut seseorang sudah bertengger di pundakku  “ kamu kenapa, nak ?” Papah. Dia berkata lembut. Tak ada suara yang mampu keluar dari mulutku. Tubuhku masih bergetar hebat, Keringat dingin semakin banyak membasahi wajahku. Otakku masih linglung, tak mampu menangkap apa yang terjadi. Mimpi itu seolah-olah nyata.

Dengan segera kupeluk papah erat, membiarkan rasa takutku luntur dengan hangatnya pelukan beliau.

Malam ini merupakan malam pertama kalinya aku bermimpi aneh lagi setelah kejadian ibu meninggal.

Oh ayolah!

Aku sudah tak mau berurusan dengan mimpi-mimpi yang aneh itu lagi. Kau tahu ? terakhir kali sebelum ibuku meninggal, aku sering bermimpi buruk dan melihat sebuah keranda mayat dalam bunga tidurku, lalu beberapa minggu berikutnya kejadian buruk menimpa ibuku.

Takut. Itulah perasaan pertama yang mencuat dari hatiku. Bukan. Bukan takut karena aku akan mati, aku takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi kembali pada orang-orang yang kusayangi.

lalu apa sekarang ? Mimpi ini bagaikan sebuah peringatan dan berusaha memberitahuku bahwa sesuatu yang buruk aka terjadi.  Jangan!!! kuharap jangan ada lagi hal buruk yang menimpa diriku.

Bersambung

Jadi Deathdream ini merupakan cerbung yang aku tulis di wattpad, dan aku berpikir untuk menuliskan kembali cerita ini di blog. nah, chapter sebelumnya ada di sini

Lelaki

Langit menatap nanar pada tumpukan surat yang ada di hadapannya. Dia tahu hari ini akan segera tiba. Hari di mana dia harus kehilangan seseorang. Lagi. Entah untuk keberapa kali. Dan bodohnya lagi hal itu terjadi karena keangkuhannya.Egonya yang terlalu besar.

”Ini untuk yang terakhir kalinya aku bertanya, Kamu akan menikahi ku,kan ?” Mata berwarna coklat pekat itu sedang menatapnya intens. Sedang langit hanya mampu berdiam diri. Bahkan tatapannya malah menari-nari ke setiap penjuru toko.

Hari itu, Dia tiba-tiba hadir tanpa diketahui oleh Langit. Memang sebelumnya dia mengabarkan akan mengunjungi toko souvenir milik langit. Katanya dia hanya ingin melepas rindu setelah beberapa bulan terakhir mereka tak bertemu. dan setelah insiden yang membuat hubungan mereka merenggang dan hilang komunikasi selama beberap bulan. Tapi, langit sudah dapat menduga maksud dari kedatangan gadis berparas blasteran jawa-Inggris ini. dan langit pun hanya mampu mengiyakan permintaannya. Langit tak menyangka bahwa dia akan mengatakan hal itu dengan begitu cepat, tanpa basa-basi. Bahkan ketika dia baru datang.

”Aku, belum siap. Kamu tahu sendiri,kan, aku baru mulai usaha. Aku belum siap untuk menikah.”

”Langit, Aku tahu. Tapi pernikahan tidak akan membuat kita miskin. Jika memang itu mau mu aku tak bisa berbuat apapun. dua bulan lalu, seseorang datang ke rumahku. Dia ingin melamarku. Dan orang tuaku lebih merestui Dia daripada kamu.”

”Aku mau menikahimu, aku mau menikahimu. Tapi tidak sekarang, kamu mengerti,kan ?” Langit kehabisan kata-kata. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan dia. beberapa kali langit mengacak rambutnya keras, matanya memerah dan berkaca-kaca. Sejenak dia merasa menjadi seorang lelaki paling cengeng di dunia.

”Tidak bisa, bulan depan aku harus menikah dengan Dia. Seseorang yang telah melamarku.”

”Jadi, hubungan kita berakhir ? Setelah 7 tahun kita berpacaran ? Ini gila?!” Langit tak terima. Dia Meracau tak jelas. Sedang gadis di hadapannya hanya mengangguk lemah, sebagai jawaban dari pertanyaan langit. Sepersekian detik berikutnya dia pergi begitu saja meninggalkan langit yang masih bergeming di tempat.

Langit tahu ini salahnya. Dulu ketika Gadis di hadapannya mengenalkannya pada orang tuanya, ketika dia ditanya oleh orang tua gadis itu, langit tak memberikan jawaban pasti.

”Saya akan menikahi anak bapak. Pasti! Bapak tak perlu khawatir. Tapi tidak dalam waktu dekat.” Tak ada keraguan sedikit pun di hati langit. Tatapan matanya tajam, sarat akan keyakinan. Dan Pak Marli hanya mampu menatap langit. Mencoba mencari kejujuran atas jawaban langit.

Dengan tegas dia berkata, ”Jika kamu menyakiti anak saya, saya tak akan mengijinkan kamu menikahi dia.”

”Tidak akan. Saya akan melindungi dia.”

Penyesalan tiba-tiba saja menghimpit hatinya. Memberikan rasa nyeri yang tak terkira. Sebuah hal bodoh yang tak seharusnya dia sesali sekarang. Langit membereskan semua surat di hadapannya. Dalam amplop tersebut tertulis ‘Untuk langit, seseorang yang aku cinta.’ Lalu, di bagian belakang amplop itu tertulis sebuah nama yang akan membuat kuping langit melengking ketika nama tersebut di sebut.Pelangi.

”Ayo, pergi! Kamu harus menghadiri pesta itu.” Langit masih terdiam. Tak menjawab maupun tak menyanggupi wanita paruh baya di hadapannya.

”Kamu lupa ? Kamu sudah melepaskan seseorang yang kamu cintai, hanya karena sebuah keegoisan dan ketakutan tak berujungmu.”

Bu Risa, seseorang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Kini dia tengah menyodorkan sebuah undangan berwarna hijau toska. Dan  membuat langit pedih ketika melihat isi undangan itu. Membuatnya ingin langsung merobek ataupun membuang undangan tersebut. Pelangi & Badai. Hatinya pilu menatap undangan tersebut. ada ribuan aliran listrik yang seolah-olah menyengat hatinya. ada sebuah getaran yang membuat hatinya kebas. Dia bangkit dari tempat duduk hendak beralih ke ruang design toko souvenirnya, hanya di sana dia merasakan sebuah ketenangan. Sementara itu seiring langkah kakinya semakin jauh, suara sang ibu masih terdengar samar di telinga.

”Sudahlah, kamu hanya perlu menerimanya. Wanita bukanlah sebuah permainan yang hanya bisa kau mainkan. Bukan juga sebuah barang disebuah toko yang hanya kamu pegang. sebagai ayah, Pak Marli ibarat seorang penjual yang tak rela putri kesayangannya di sentuh tanpa dimiliki seutuhnya.”

”Kau, lelaki. Lain kali harus lebih tegas dalam suatu hal.”