Hal-hal Kecil yang Dilakukan Ini Jadi Bukti Bahwa Kamu Menyayangi Kedua Orang Tuamu

Orang tua adalah seseorang yang paling tulus dalam merawat kita, tentu rasa sayang dan cinta mereka sudah terperlu kita ragukan lagi. Sejak kita kecil bahkan hingga kita dewasa nanti mereka akan tetap menyayangi kita, tanpa mengharapkan balasan, dan imbalan. Bahkan walau kita sudah menikah pun kita masih tetap membutuhkan mereka dan kadang menyusahkan mereka.

Lalu bagaiamana dengan cinta dan kasih sayang kita pada mereka? Apakah kasih sayang dan cinta kita sudah sama seperti kasih sayang dan cinta mereka pada kita ? Rasanya, tak ada yang bisa menyayangi kasih sayang dan cinta kedua orang tua kepada anaknya. Cinta kita pada mereka pun masih diragukan, Cinta dan kasih sayang kita pada orang tua tak ada apa-apanya. Tapi berikut merupakan hal-hal kecil bisa dilakukan sebagai bukti bahwa kamu begitu menyayangi mereka :

  1. Menuruti perintah mereka

Kadang kita sering melawan perintah orang tua kita. Tanpa sadar kita sering melanggar atau bahkan mengabaikan perintah mereka, padahal menuruti kemauan dan perintah mereka bisa menjadi salah satu hal yang membahagiakan bagi kedua orang tua.  Tentu, perintah yang harus kita turuti itu harus berupa perintah yang baik dan tidak melanggar perintah agama ataupun melanggar hukum. Tanpa kita ketahui, menurut perintah orang tua, bisa menjadi hal paling membahagiakan bagi orang tua. Bagaimana tidak, semua orang tua pasti mengharapkan anaknya menjadi anaknya penurut dan baik.

  1. Meluangkan waktu untuk mereka

Orang tua tak pernah mengharapkan hal besar kepada anaknya. Sebenarnya, orang tua kadang hanya menginginkan waktu anaknya yang disishkan untuk mereka. Mereka hanya ingin kita meluangan waktu kita untuk bersama mereka, mengobrol bersama, menceritakan banyak hal yang kita lakukan dan kita sukai. Kebersamaan seperti itulah yang mereka inginkan, dan biasanya mereka akan sangat senang jika anaknya mau terbuka, dan meluangkan waktunya untuk mereka.

Tahu,kah kamu? Sehebat dan sekaya apapun kamu, orang tua tak mengharapkan apapun, mereka hanya mengharapkan waktu kita untuk bersama mereka. Mereka hanya menginginkan kita untuk menemani sisa tua mereka, bercanda dan mengobrol dengan mereka. Sesederhana itu yang diinginkan oleh orang tua.

  1. Membantu Pekerjaan Ibu

Pernah terpikir olehmu betapa lelahnya ibu melakukan semua pekerjaan rumah, dimulai dari mencuci, mencuci piring, membereskan rumah, memasak dan bahkan harus mengurusi dirimu dan anggota keluarga yang lain?

Tahu, tidak kalau ibumu akan sangat tersentuh dan senang ketika kamu membantu meringankan pekerjaannya. Ibumu akan sangat bangga padamu, karena itu artinya kamu mampu menjadi peribadi yang peduli pada sesama dan bertanggung jawab. Dan itu merupakan hasil didikkannya.

  1. Peluk dan Katakan Bahwa Kamu Menyayanginya

Tak ada hadiah paling manis bagi seorang ibu selain mendapatkan pelukan dan mengatakan ‘aku menyayangimu’. Pelukan tersebut menjadi obat dan dukungan paling besar bagi ibumu ketika dia sedang stress dan menghadapi masalah yang berat. Hal kecil yang kamu lakukan itu bisa memberikan semangat kembali. Bagaiamana tidak, anak sematawayangnya memeluk dan mengtakan cinta ketika dia sedang benar-benar membutuhkan kekuatan dan dukungan dari seseorang yang paling dekat. Selama ini ibumu sudah begitu lelah merawat dan membesarkanmu hingga kamu dewasa. Dengan memeluk dan mengatakan ‘aku menyayangimu’ bisa membuktikan bahwa kamu memang benar-benar meyangi beliau. So, kapan kamu memeluk dan mengatakan sayang pada beliau? Jangan hanya pada pacarmu saja kamu melakukan hal manis tersebut, lakukanlah hal kecil itu pada ibumu. Seseorang yang paling dekat denganmu.

Advertisements

Menikah itu…..

index

sumber

Bismilahirhmanirahiim

Hola hola hola

Mumpung masih suasana lebaran, sekalian aja deh aku mau ngucapin minal aidzin wal faidzin ya buat yang suka baca tulisanku *overconfident *padahalgaada

Kali ini aku mau bahas soal stereotype masyarakat di desaku. Berharap tak ada warga atau tetangga yang baca karena bisa berabe kalau baca. Ok back to topic, jadi setiap lebaran itu ada kebiasaan yang rasa disetip daerah pun sama yaitu nikahan. Iya di moment-moment lebaran seperti sekarang, banyak sekali acara nikahan yang diselenggarakan dan dilangsungkan. Mungkin acara pernikahan seperti itu diadakan sengaja sekaian reuni dengan teman-teman lama, berkumpul dan mengobrol ngalor ngidul soal masa lalu entah itu saat masih SD, SMP, SMA ataupun kuliah. Kebiasaan itu teras berlangsung, dan kadang setiap hari ada saja acara nikahan yag dilangsungkan. Hampir satu minggu setelah lebaran kita akan terus dihadiahi undangan dan rencan untuk menghadiri acara pernikahan.

Dan alasan aku menulis adalah karena keresahanku dan kegelisahanku yang memiliki perbedaan pandangan atau pemikiran dengan temanku.

Jadi ceritanya, aku yang belum menikah dan jomblo ini, kadang sering merasa takjub dan salut kepada teman-teman seangakatan atau bahkan usianya jauh di bawah usiaku yang memilih untuk menikah muda. Dan saya selalu penasaran bagaimana perasaan mereka sebelum menikah. Percakapan dimulai ketika aku mulai bertanya dengan seorang teman “Kamu yakin udah siap nikah? Kalo aku mah jujur aja belum siap. Masih ga yakin bisa jadi ibu dan istri yang baik. Apalagi jadi ibu yang baik.” Lalu teman say menjawab

“siap ga siap sih. Ya emang kita harus nikah. Dan suatu hari nanti juga kamu ngalamin apa yang aku alami. Sejujurnya aku belum siap. Tapi.. ketika ada yang berniat baik, kenapa mesti menunda.”

“kamu belum siap? Kirain aku kamu udah siap. Terus apa yang bikin kamu belum siap buat nikah?”

“aku belum bisa masak. Belum bisa mengurus urusan rumah.” Dan jawaban seperti itu selalu yang aku daptkan setiap aku bertanya pada teman-teman yang akan menikah.

Nah jadi kesimpulan dari percakapan diatas itu apa? Dari percakapan di atas aku bisa menyimpulkan dua hal.

Satu, menikah itu soal keberanian. Bukan kesiapan. Iya, ada hal-hal yang melatarbelakangi seseorang menikah yaitu keberanian. Keberanian mengambil resiko dalam pernikahan. Keberanian dalam menanggung tanggung jawab yang besar dan kebernian dalam menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Mereka yang sudah menikah sepenuhnya belum siap ketika akan menikah. Banyak yang masih belajar masak ketika sudah menikah. Banyak yang bahkan tak bisa melakakun pekerjaan rumah. Keberanian menjadi hal paling penting dalam pernikahan bukan kesiapan, karena rasanya tak ada yang benar-benar merasa siap untuk menikah. Pernikahan itu butuh keberanian dan kemauan. Itu saja sebenarnya.

Kedua, lagi. Masih ada perempuan yang memiliki persepsi tentang menikah adalah soal menjadi istri yang baik dan bukan ibu yang baik. Darimana aku menyimpulkan hal tersebut? Tentu dari percakapanku dengan teman-teman yang lebih pusing dan merasa tak siap menikah karena tak bisa memasak. Mereka lebih pusing tak bisa menjadi istri yang baik daripada menjadi ibu yang baik. Mereka lupa bahwa peran seorang perempuan dalam berumah tangga bukan hanya sekedar menjadi istri yang baik tapi juga menjadi seorang ibu yang baik.

Tahu,kah,bagaimana reaksi mereka ketika aku berkata pada mereka tentang ketidaksiapan ku dalam menikah karena aku takut tak bisa menjadi ibu yang baik dan mengurus anakku dengan baik? Mereka berkata bahwa mengurus anak itu termasuk hal yang mudah karena rata-rata diantara mereka sering bercengkrama dengan keponakan mereka yang notabene anak kecil.

Bahkan mereka berpikir bahwa mengurus anak itu hanya tentang persoalan memberi makan, memandikan dan yang lainnya. Padahal mengurus anak tidak sesimple itu, kita harus benar-benar memperlakukan mereka dengan baik, memfasilitasi mereka dengan fasilitas yang memadai dan tentu tugas seorang perempuan untuk anaknya adalah menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Pendidikan karakter anak berawal dari seorang ibu, bagaimana seorang anak berprilaku dan berkepribadian tergantung dari bagaimana seorang ibu mendidik anaknya. Tak hanya itu saja, anak juga sebisa mungkin tak mengalami luka yang berasal dari rumah mereka. Banyak anak-anak yang mengalami trauma dan luka psikis yang disebabkan dari suasana rumah yang tak menyenangkan.

 

Menyembuhkan Luka Karena Kematian

kematian1.jpg

sumber

              Ketika menulis ini, sejujurnya aku sedang begitu merindukan ibuku. Ibuku sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Ya, topik yang aku bahas kali ini memang tak jauh sekitar ibu dan kehilangan. Jangan tanya kenapa, karena memang itulah yang sedang kurasakan sekarang.

Kalian semua, adakah yang pernah mengalami kehilangan ? Adakah yang pernah ditinggalkan oleh seseorang yang paling disayangi karena kematian ? jika aku bertanya bagaimana perasaan kalian sekarang setelah waktu berlalu dan kalian menyadari bahwa sudah tak ada lagi orang yang kalian sayangi ? Bagaimana perasaan kalian ketika tiba-tiba rindu menghampiri dan semua bayangan tentang dia yang pergi kembali menyeruak ? Jawabannya pasti bervariasi. Aku pernah membaca sebuah quote dalam novel remeber when, aku lupa siapa yang mengatakan quote itu tapi si tokohnya ada yang pernah berkata ”Luka kehilangan karena kematian itu tak akan bisa begitu saja dilupakan.”

Aku kurang begitu mengingat detailnya tapi intinya adalah sebuah luka kehilangan karena kematian itu sangat sulit untuk disembuhkan. Perlu waktu lama untuk menyembuhkannya. Dan aku pun mengalami hal ini. Even it has been 3 years. This pain is always same as the day when she passed away. Rasa sakitnya masih sama saat beliau pergi 3 tahun lalu. it menas that i can’t heal myself. sekarang, perasaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Dulu, aku masih sering melakukan pengandaian-pengandaian, seolah menolak takdir. Kali ini aku akan memberitahu hal apa saja yang harus dilakukan untuk mengurangi luka kehilangan tersebut, Berikut diantaranya :

 

  1. Menangislah

Ketika kalian mendapati fakta bahwa orang yang paling kalian sayangi pergi, jangan ragu untuk menangis. Menangislah sampai puas. Menangislah sampai rasanya air mata kalian akan mengering. Luapkan semua kesedihan tersebut lewat tangisan. Jangan menahannya, karena ketika perasaan sedih tersebut terus ditahan justru akan menjadi bom waktu dikemudian hari yang akan meledak suatu saat nanti dan puncaknya akan terus merasa bersalah. Luapkan semua perasaan yang sedang dirasakan saat itu juga.

 

  1. Kematian itu pasti

Setelah meluapkan semua emosi. Mulailah berpikir dan ingat satu hal bahwa kematian itu pasti. Di dunia ini tak ada kata pasti, semua hanya kesempatan-kesempatan yang berlalu lalang dalam hidup kita. Tapi kematian itu pasti. bukankah sudah dijelaskan dalam al-qur’an bahwa semua yang ada di dunia ini milikNya yang sewaktu-waktu bisa saja diambil. Begitu pun orang kita Sayangi. Tak ada yang bisa menghindari kematian. Jika boleh jujur, aku sempat tersadar karena suatu kata yang aku tulis sendiri di sebuah buku harian, isinya begini ”siap atau tidak sekarang atau nanti semua orang pasti akan mengalami kehilangan, atau mungkin suatu hari nanti kita sendirilah yang akan meninggalkan.”

 

  1. Menulislah

Dulu ketika ibuku meninggal aku selalu menulis. Menulis apa saja, menulis semua perasaan yang kurasakan. Aku pun sering menulis surat untuk ibuku. Ya itu memang terlihat gila, karena kutahu ibuku tak akan membacanya. Tapi menurut penelitian, menulis bisa merelease perasaan dan menstabilkan emosi seseorang percaya atau tidak percaya, tapi perlahan-lahan setelah aku sering menulis, perasaanku berangsur-angsur membaik.

Sekian tulisan dariku. adakah di sini yang ingin sharing tentang pengalamannya yang harus menghadapi sebuah kehilangan kematian? atau adakah di sini yang sedang dan masih berusaha menyembuhkan lukanya karena kematian sepertiku ? Silahkan share di kolom komentar,ya!

 

Mempercayai Kemampuanmu

index.jpg

 sumber

“Hal yang paling menyedihkan itu bukan ketika orang lain tak mempercayai kemampuanmu, tapi ketika kau tak percaya pada kemampuanmu sendiri, karena pada titik itu kau akan berhenti mencoba.”

Kamu pasti pernah disepelekan,bukan ? mungkin pernah mungkin juga tidak. Kalau misalnya ada yang mengatakan ‘Emang kamu bisa ?’ ke kalian pernah tidak ?

Percayalah omongan-omongan seperti itu sebenarnya tak terlalu buruk, karena dengan adanya orang-orang yang berbicara seperti itu padamu, secara tidak sadar kamu pasti akan berusaha dan membuktikan pada mereka bahwa kamu bisa, dan kamu mampu. Ya, Omongan dan cercaan orang-orang justru akan membuatmu semangat, membangkitkan semangatmu yang telah hilang atau tiba-tiba saja hilang.

Lalu, bagaimana kalau kamu tidak mempercayai kemampuanmu sendiri. Kamu pernah tidak merasa minder pada dirimu sendiri dan merasa bahwa kamu tak mampu melakukan sesuatu yang selama ini orang lain remehkan ? lalu kamu pun mulai mempertanyakan “ Aku bisa ga ya ?”, “Pasti ga bisa.”, “kayaknya aku ga bisa deh.”

Saat pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul dalam benakmu, saat itu juga kamu sedang tak mempercayai dirimu sendiri, saat itu juga kamu sedang merendahkan dirimu sendiri. Dan sialnya, saya sedang mengalami hal seperti itu. Menyebalkan. Di sisi lain, saya masih ingin melakukan sesuatu hal yang saya yakini sebelumnya, di lain sisi, logika saya terus mempertanyakan “emang kamu bisa?”

Sejujurnya, Saya ingin mengikuti lomba #bloggerdreamteam raditya dika, saya bahkan sudah mendaftarkan diri dan menyimpan sebuah ide yang akan saya eksekusi tapi karena hal tersebut saya jadi mengurungkan niat tersebut. Ide yang beberapa hari ini muncul saya singkirkan, saya endapkan begitu saja dalam draft, dan tak tersentuh sama sekali. Setiap kali saya mencoba untuk menulis, saat itu juga saya berhenti dan hanya menghasilkan beberapa kalimat saja. Menyebalkan. Seperti quote yang sudah saya tuliskan di atas, bahwa hal yang paling menyedihkan itu adalah ketika kamu sudah tak mempercayai kemampuanmu sendiri. Pada titik itu kamu akan berhenti mencoba, Akan ada ketakutan yang terus membatasi gerakmu dan membuatmu tak bisa bergerak hingga akhirnya tak ada yang bisa kamu lakukan, lalu kamu akan mengatakan ‘tuhkan bener, aku ga bisa’ sebagai pembenaran atas sugesti kita sendiri. Sebenarnya hal tersebut bukan karena kamu tak mampu tapi karena kamu terlalu terpaku pada sugestimu sendiri. Dan berikut adalah hal-hal yang sering saya lakukan ketika saya merasa minder dan tak percaya pada kemampuan saya sendiri :

  1. Yakinlah bahwa kamu tercipta dengan kemampuan yang istimewa

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. At-Tin 95:4)

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, Kami angkut mereka

daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.”(Qs. Al-Isra 17:70)

Dalam kedua ayat tersebut sudah dijelaskan bahwa kita semua sudah dilengkapi oleh kelebihan dan keistimewaan yang berbeda dibandingkan dengan makhluk lain di bumi ini. Jadi sudah seharusnya kita bersyukur dan memanfaatkan kelebihan tersebut. Yakinlah bahwa kita mampu melakukan apa yang ingin kita lakukan (dalam hal yang bersifat positif) karena kita memiliki akal. Tapi kita juga jangan lupa bahwa potensi yang kita miliki harus kita asah dan jangan dibiarkan begitu saja, contohnya saja passion. Bekerja karena passion itu memang menyenangkan, tapi belum tentu passion kita bisa kita jadikan sebagai pekerjaan. Kita harus profesional dulu terhadap apa yang menjadi passion kita. Passion itu tidak sehari dibentuk, butuh proses yang panjang.

  1. Stop mengatakan “aku ga bisa.

Sadar atau tidak, kadang perkataan itu mampu mempengaruhi psikologi seseorang. Jadi ketika rasa minder mulai muncul, coba hilangkan perasaan tersebut. Atau paling tidak berhentilah mengatakan ‘aku ga bisa.’ Dan ubahlah kata tersebut dengan ‘aku pasti bisa.’ Hal tersebut bisa mempengaruhi mu dan membuatmu semangat lagi.

  1. Jangan Batasi dirimu dengan rasa takut akan gagal

Biasanya rasa minder dan rasa tak percaya diri pada kemampuan sendiri itu disebabkan karena rasa takut yang berlebihan yang kita rasakan. Hal tersebut membuat gerak langkahmu terbatas dan membuatmu berhenti untuk mencoba. Hal tersebut lah yang paling membahayakan, karena ketika kamu mengalami hal tersebut kamu akan terus dan terus merasa takut. Contohnya, si A sudah mengirim naskahnya ke sebuah penerbit dan ternyata naskah tersebut sudah berpuluh kali ditolak. Jika si A merasa takut untuk ditolak kembali dan memilih untuk tak mengirim naskah itu sendiri, maka selamanya naskah tersebut tidak akan pernah menjadi buku.

Oke that’s all from me, bagi yang mempunyai pengalaman seperti di atas dan percaya diri akan kemampuannya bisa komentar di koloom komentar ya ….. 🙂

 

Paling Berharga

 

Adakah hal yang paling berharga di dunia ini ? Sesuatu yang tak bisa digantikan oleh apapun dan tak pernah bisa dinilai serta tak akan pernah bisa dibeli dengan berapa banyak pun uang yang kita miliki. Ada hal- hal yang memang sangat berarti di dunia ini, diantaranya waktu, kenangan dan seorang ibu.

  1. Waktu

Semua di antara kita memiliki waktu yang sama setiap harinya, 24 jam. Ada yang mampu memanfaatkannya dengan baik dan ada yang justru berleha-leha serta tak menganggap waktu itu penting. Padahal jika kita pikirkan kembali, waktu termasuk ke dalam sesuatu yang paling berharga. Sesuatu yang tak dapat digantikan dan tak akan pernah bisa dibeli oleh apapun. Tak heran jika ada ungkapan “Time is money”. Waktu memang sangat berharga,  Karena kita tak bisa mengembalikan waktu, karena kita tak bisa memutar kembali waktu yang pernah kita lalui. Jika Kita mampu  memutar kembali waktu, mungkin tak akan ada  penyesalan, tak akan ada hal-hal yang kita sesali, takkan ada hal-hal yang bisa kita pelajari dalam setiap hal yang kita lalui.

  1. Kenangan

Kenangn menjadi hal yang berarti karena setiap orang memiliki kenangan tersendiri, setiap orang memiliki cerita tersendiri. Dan kenangan menjadi hal yang kekal dan akan selalu kita ingat sampai kapan pun. Pertanyaannya, sudahkah kita membuat kenangan yang menyenangkan bersama orang-orang yang kita sayangi ? Sebelum akhirnya kita menyesal karena kesempatan untuk mengukir kenangan sudah tak ada, sebelum orang-orang yang kita sayangi sudah kehabisan waktu dan tak bisa lagi bersama kita.

 

bigzk3mccaabb1n-jpg-large

sumber

  1. Ibu

Sebernarnya dari ketiga hal di atas semuanya saling berkaitan khususnya jika menyangkut tentang ibu. Ibu adalah seseorang paling berharga. Harta paling mahal yang tak pernah kita sadari, karena do’a beliau merupakan suatu keberkahan, dan tanpa do’a dari seorang ibu, kita takkan bisa menjadi apa-apa.

Sadarkah kita ? terkadang kita terlalu banyak melewatan hal-hal paling berharga jika berhubungan dengan ibu. Contohnya waktu, berapa banyak waktu yang sudah kita sia-siakan ketika ibu kita masih ada ? Kadang, ketika beliau masih ada kita enggan untuk membagi waktu kita untuk beliau, walaupun hanya untuk beberapa jam dalam sehari. Padahal sebenarnya apa yang mereka inginkan itu teramat sederhana. Lebih sederhana dari semua hal yang sering kita minta pada seorang ibu, lebih sederhana dari apa yang sudah ibu lakukan untuk kita, mengandung dan melahirkan misalnya. Mengandung dan melahirkan itu hal yang luar biasa, yang bahkan sampai kapanpun tak akan pernah bisa kita membayar jasa beliau yang satu itu.

Hal yang paling mereka inginkan terkadang hanya kebersamaan. Kita mampu membagi waktu kita untuk beliau, kita mau mendengarkan cerita mereka dan  kita mampu membuat kenangan kebersamaan bersama beliau yang akan kita kenang sampai kapan pun walaupun mereka sudah tiada.

Actually, i have a story base on my experience. Saya bukan tipikal orang yang dengan gampangnya bisa mengatakan “i love you “ pada seorang ibu. Saya hampir tak pernah melakukannya. Justru saya lebih sering bertengkar dengan beliau, lebih sering mengalami perbedaan pendapat dan kadang berujung dengan menyakiti hati beliau. Tapi kami saling mengerti satu sama lain, kami saling mencintai satu sama lain, dan baik saya dan ibu tahu akan hal itu. Tapi, hal tersebut lama-lama menghilang. Saya tidak menjadi anak yang memberontak lagi, saya tidak menjadi anak yang sok tahu dan seakan-akan mengerti akan apapun. Saya justru menjadi seorang anak yang patuh yang mulai mengakui bahwa pengalaman ibu saya lebih banyak, beliau lebih tahu akan banyak hal dan apa yang beliua katakan itu benar. Sejak saat itu, kedekatan kami makin intens. Saya mulai sering bercerita pada beliau tentang apapun. Saya juga mau mendengarkan semua cerita dan keluh kesah beliau, mulai menuruti semua yang beliau katakan.

Semua yang beliau katakan semuanya saya ikuti selama saya mampu melakukannya, contohnya saya harus sekolah di mana, saya harus mengambil jurusan apa dan hal- hal lainnya. Tak ada pemberontakan tak ada penolakan saya benar-benar menjadi anak yang penurut. Bahkan setiap pagi, saya sudah tak malu lagi untuk mencium tangan ibu saya dan mencium kedua pipi beliau.

Katanya, rasa cinta tak cukup untuk diungkapkan tapi harus ditunjukkan. Saat itu saya menunjukkan rasa cinta saya, namun saya jarang sekali mengungkapkannya, saya jarang mengatakan “I love you pada beliau”. Dan saya ingat sekali saat hari ibu dua tahun lalu, saat itu saya berencana untuk membelikan ibu saya hadiah dan mengatakan bahwa saya menyayangi beliau.

Takdir kadang memang selalu berbuat sesuai kehendaknya sendiri. Ibu saya meninggal 2 bulan sebelum hari ibu. 23 oktober 2013, beliau pergi untuk selama-lamanya. Sejujurnya saya menyesal. Sungguh. Betapa, kenapa dulu saya begitu gengsi untuk mengatakan bahwa saya menyayangi beliau, kenapa dulu saya harus menunggu hari ibu hanya untuk sekedar memberi hadiah dan mengucapkan rasa sayang. Padahal setiap hari saya masih bisa mengucapkan rasa sayang saya pada beliau, padahal dulu tiap hari saya bisa membelikan beliau hadiah. Kenapa saya harus menunggu hari ibu ?

Sekarang sekalipun saya sangat merindukan beliau, sekalipun saya ingin sekali bertemu beliau, saya tak akan pernah bisa. Dan walaupun saya nanti bisa sekaya dan sehebat apapun, saya tetap tak akan pernah bisa bertemu dengan beliau, karena waktu dan  kenangan sangat berharga.                          Jadi, untuk apa harus menunggu hari ibu untuk mengatakan cinta dan memberikan hadiah jika pada kenyataannya bisa dilakukan hari ini ? Lakukan lah sekarang,lakukan lah setiap hari. Kalau perlu cium lah tangan ibumu setiap hari dan katakan bahwa kamu menyayangi beliau setiap hari, karena kita tak akan pernah tahu kapan beliau akan berpulang. Jadi, sudahkah kamu mencium dan mengatakan “I love you” pada ibu mu hari ini ?

 

 

 

Metamorfosis

Bismillahirahmanirahiim

metamorfosis

Sumber

Karena sebenarnya semua orang berubah dan semua orang berkembang, begitu pun kita. Dan kadang kita tak menyadarinya.

     Suatu hari ada seekor ulat kecil yang dianggap begitu menjijikan bagi teman-temannya. Si ulat ini selalu dihina oleh sekumpulan tupai yang tinggal di pohon bersama sang ulat.

“kamu itu menjijikan sekali. berbulu, kecil dan tak berguna. tak ada yang menyukai mu. kamu berbeda sekali dengan si capung. dia banyak yang mengagumi dan banyak yang menyukai. bahkan dia bisa terbang bebas sesuka hati menggunakan sayapnya. tak seperti kamu.”

Si tupai terus saja mengomentari hidup si ulat dan terus membuat si ulat berkecil hati. Diam-diam, si ulat pun mendongakkan kepalanya dan moncoba melihat capung-capung yang terbang bebas di langit. Dalam hati dia berkata ‘andai suatu hari nanti aku bisa seperti si capung yang banyak disukai orang dan bisa terbang bebas kemana pun dia mau.’

Si ulat semakin berkecil hati dan merasa benar-benar putus asa dengan keadaannya. Dia pun sempat merutuki Tuhan yang memberikannya tubuh menggelikan dan berbulu seperti itu. Tapi pada suatu hari ada yang aneh dengan tubuhnya, kulitnya mengelupas. Dia lalu beristirahat dan melekatkan tubuhnya di ranting pohon. lalu, beberapa waktu kemudian tubuhnya diselimuti oleh benang-benang yang semakin tak dimengerti oleh si ulat. Saat menjadi kepompong itu si ulat ditempa agar menjadi serangga yang sempurna. Dan hingga waktunya, dia pun harus berjuang dengan sekuat tenaga untuk keluar dari kepompong itu. Dan menjadi kupu-kupu cantik yang disukai oleh banyak orang.

Baiklah cerita tadi memang hanya rekaan saya saja. Tapi ada hal yang bisa kita ambil pelajaran dari proses metamorfosis kupu-kupu. Kupu-kupu tadi mungkin tak tahu bahwa suatu hari nanti dia bisa menjadi serangga yang disukai banyak orang. Dia hanya melihat bahwa tubuhnya menggelikan dan tak disukai oleh banyak orang. Tapi jalan yang harus dia tempuh untuk menjadi seekor kupu-kupu cantik pun tak mudah. Dia harus berpuasa selama 7-20 hari ketika menjadi kepompong dan ketika keluar dari kepompong pun dia harus berjuang kembali agar sayapnya bisa digunakan.
Dari kisah tersebut kita bisa belajar bahwa apapun keadaan kita, kita harus bisa mensyukurinya karena kita tak pernah tahu akan menjadi apa kita nanti. Mungkin sekarang kita seperti si ulat yang kecil, berbulu dan menggelikan, tapi bisa saja suatu hari nanti kita akan menjadi seekor kupu-kupu cantik yang bebas terbang kemana pun. Karena segala sesuatunya butuh proses, dan apapun yang kita inginkan memerlukan sebuah perjuangan. Kadang kita pun lupa bahwa sebenarnya masalah merupakan salah satu proses metamorfosis yang tak pernah kita sadari. Dengan masalah kita akan ditempa sedemikian hebat menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga kita semua bisa melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda dan bisa selalu berhusnudzon kepada Allah yang telah memberikan masalah/ujian kepada kita.

Quarter Life Crisis

Quarter-life-crisis

Sumber

Ada beberapa hal yang selalu dipikirkan oleh seseorang di usia 20an,diantaranya :

  1. Akan menjadi apa saya nanti ?
  2. Dengan siapa saya akan melanjutkan hidup (menikah) ?

Dua hal itu akan terus dipikirkan oleh beberapa orang saat usianya mencapai 20an. quarter life crisis. Ya begitulah orang-orang menyebutnya.  Usia 20an memang usia yang rentan, usia di mana seseorang mulai mencari jati dirinya, usia di mana seseorang dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan-keputusan yang akan menentukan kelangsungan hidupnya di masa depan. Dan saya pun mengalami masa-masa tersebut. Sedang mengalami lebih tepatnya. Akhir-akhir ini, ada beberapa keresahan-keresahan akan masa depan yang terus menghantui pikiran saya. Salah satu di anataranya adalah ‘Akan menjadi apa saya nanti ?’.

Pertanyaan itu terus saja berdengung di telinga saya. Membuat saya kadang kerepotan menjawabannya. Wajar memang jika saya menanyakan hal seperti itu, saat usia saya sudah mencapai 20 tahun lebih, dan ketika saya melihat bahwa teman-teman saya sudah menjadi “orang”, sedang saya masih begitu-begitu saja. Merasakan hidup seolah-olah stagnan. Tak maju dan tak bisa mundur. Itu benar-benar menyebalkan. Saya seperti mengalami krisis identitas. Tak tahu harus berbuat apa dan tak tahu ingin melakukan apa. Hingga pada akhirnya pernyataan dari kakak saya benar-benar menyadarkan diri saya, membuat saya kembali ke dunia nyata. Membuat saya tertampar sedemikian hebat dan terus merenunginya berkali-kali.

”Pola pikir kamu salah. Selalu mikirin hal yang belum tentu terjadi, padahal hidup itu cuma perlu dijalani bukan dipikirin. Kalo pun apa yang kamu pikirin jadi kenyataan, yang penting kamu udah berani ngambil keputusan.”

Begitulah isi nasehat dari kakak saya. Saya benar­-benar tertampar oleh nasehat itu. Dalam nasehat itu, saya seperti mendapatkan sebuah jawaban yang baru saya sadari. Saat itu juga saya langsung merutuki diri saya sendiri. Kadang kita tak tahu bahwa hidup itu hanya perlu dijalani, tak perlu kita pikirkan. Karena ada sutradara kehidupan yang sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa, kita hanya perlu berusaha dan mempasrahkan hasil usaha kita. Hanya itu. Dan kadang kita tak menyadari bahwa keresahan yang selama ini kita miliki hanyalah hasil dari pemikiran kita. Coba pikirkan kembali, bukankah nyatanya hal buruk yang kita pikirkan selama ini tak pernah terjadi ? Dan karena hal itulah yang membuat langkah kita tersendat, karena itulah kita kadang merasa hidup kita stagnan. Ya, hal itu membuat kita takut dalam melangkah, membuat kita takut melakukan sesuatu. Yang ada dipikiran kita hanya segala resiko yang akan terjadi, resiko yang takut kita menanggungnya.

download

sumber

Melakukan yang terbaik hari ini dan berhenti memikirkan masa depan

Kunci untuk menghadapi quarter life crisis adalah melakukan yang terbaik hari ini. Bukankah masa depan kita tergantung pada tindakan yang kita lakukan hari ini ?  Kita hanya perlu berusaha dan melakukan yang terbaik semampu kita hari ini. Mencoba mensyukuri kesempatan yang telah Tuhan berikan hari ini. Today is present, right ? dan berhentilah memikirkan masa depan, biarlah masa depan menjadi sebuah teka-teki bagi kita, hidup akan lebih menyenangkan dengan sebuah kejutan dan tentu akan menjadi lebih berwarna. Percayalah bahwa kita hanya perlu melaluinya, tak perlu memikirkannya.

Lelaki

Langit menatap nanar pada tumpukan surat yang ada di hadapannya. Dia tahu hari ini akan segera tiba. Hari di mana dia harus kehilangan seseorang. Lagi. Entah untuk keberapa kali. Dan bodohnya lagi hal itu terjadi karena keangkuhannya.Egonya yang terlalu besar.

”Ini untuk yang terakhir kalinya aku bertanya, Kamu akan menikahi ku,kan ?” Mata berwarna coklat pekat itu sedang menatapnya intens. Sedang langit hanya mampu berdiam diri. Bahkan tatapannya malah menari-nari ke setiap penjuru toko.

Hari itu, Dia tiba-tiba hadir tanpa diketahui oleh Langit. Memang sebelumnya dia mengabarkan akan mengunjungi toko souvenir milik langit. Katanya dia hanya ingin melepas rindu setelah beberapa bulan terakhir mereka tak bertemu. dan setelah insiden yang membuat hubungan mereka merenggang dan hilang komunikasi selama beberap bulan. Tapi, langit sudah dapat menduga maksud dari kedatangan gadis berparas blasteran jawa-Inggris ini. dan langit pun hanya mampu mengiyakan permintaannya. Langit tak menyangka bahwa dia akan mengatakan hal itu dengan begitu cepat, tanpa basa-basi. Bahkan ketika dia baru datang.

”Aku, belum siap. Kamu tahu sendiri,kan, aku baru mulai usaha. Aku belum siap untuk menikah.”

”Langit, Aku tahu. Tapi pernikahan tidak akan membuat kita miskin. Jika memang itu mau mu aku tak bisa berbuat apapun. dua bulan lalu, seseorang datang ke rumahku. Dia ingin melamarku. Dan orang tuaku lebih merestui Dia daripada kamu.”

”Aku mau menikahimu, aku mau menikahimu. Tapi tidak sekarang, kamu mengerti,kan ?” Langit kehabisan kata-kata. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan dia. beberapa kali langit mengacak rambutnya keras, matanya memerah dan berkaca-kaca. Sejenak dia merasa menjadi seorang lelaki paling cengeng di dunia.

”Tidak bisa, bulan depan aku harus menikah dengan Dia. Seseorang yang telah melamarku.”

”Jadi, hubungan kita berakhir ? Setelah 7 tahun kita berpacaran ? Ini gila?!” Langit tak terima. Dia Meracau tak jelas. Sedang gadis di hadapannya hanya mengangguk lemah, sebagai jawaban dari pertanyaan langit. Sepersekian detik berikutnya dia pergi begitu saja meninggalkan langit yang masih bergeming di tempat.

Langit tahu ini salahnya. Dulu ketika Gadis di hadapannya mengenalkannya pada orang tuanya, ketika dia ditanya oleh orang tua gadis itu, langit tak memberikan jawaban pasti.

”Saya akan menikahi anak bapak. Pasti! Bapak tak perlu khawatir. Tapi tidak dalam waktu dekat.” Tak ada keraguan sedikit pun di hati langit. Tatapan matanya tajam, sarat akan keyakinan. Dan Pak Marli hanya mampu menatap langit. Mencoba mencari kejujuran atas jawaban langit.

Dengan tegas dia berkata, ”Jika kamu menyakiti anak saya, saya tak akan mengijinkan kamu menikahi dia.”

”Tidak akan. Saya akan melindungi dia.”

Penyesalan tiba-tiba saja menghimpit hatinya. Memberikan rasa nyeri yang tak terkira. Sebuah hal bodoh yang tak seharusnya dia sesali sekarang. Langit membereskan semua surat di hadapannya. Dalam amplop tersebut tertulis ‘Untuk langit, seseorang yang aku cinta.’ Lalu, di bagian belakang amplop itu tertulis sebuah nama yang akan membuat kuping langit melengking ketika nama tersebut di sebut.Pelangi.

”Ayo, pergi! Kamu harus menghadiri pesta itu.” Langit masih terdiam. Tak menjawab maupun tak menyanggupi wanita paruh baya di hadapannya.

”Kamu lupa ? Kamu sudah melepaskan seseorang yang kamu cintai, hanya karena sebuah keegoisan dan ketakutan tak berujungmu.”

Bu Risa, seseorang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Kini dia tengah menyodorkan sebuah undangan berwarna hijau toska. Dan  membuat langit pedih ketika melihat isi undangan itu. Membuatnya ingin langsung merobek ataupun membuang undangan tersebut. Pelangi & Badai. Hatinya pilu menatap undangan tersebut. ada ribuan aliran listrik yang seolah-olah menyengat hatinya. ada sebuah getaran yang membuat hatinya kebas. Dia bangkit dari tempat duduk hendak beralih ke ruang design toko souvenirnya, hanya di sana dia merasakan sebuah ketenangan. Sementara itu seiring langkah kakinya semakin jauh, suara sang ibu masih terdengar samar di telinga.

”Sudahlah, kamu hanya perlu menerimanya. Wanita bukanlah sebuah permainan yang hanya bisa kau mainkan. Bukan juga sebuah barang disebuah toko yang hanya kamu pegang. sebagai ayah, Pak Marli ibarat seorang penjual yang tak rela putri kesayangannya di sentuh tanpa dimiliki seutuhnya.”

”Kau, lelaki. Lain kali harus lebih tegas dalam suatu hal.”