Surat Untuk Ibu

 

Untuk Ibu Iyah….

Seseorang yang paling kuat dan paling sabar yang pernah kukenal. Setiap hari dia harus pergi menyediakan sarapan untuk anak-anaknya, lalu membuka toko sembako di pagi hari. Saat semua orang tengah berkumpul bersama menonton tv dengan keluarganya, dia justru harus bekerja seharian dari jam 6 pagi dan  pulang ke rumah jam 9 malam. Mungkin itu terlihat biasa saja bagi orang lain, tapi tidak bagiku, karena dia adalah ibuku. Dia melakukan itu dengan sangat tulus dan dengan tubuh rentanya yang hampir memasuki kepala 6. Belum lagi dia juga harus berjuang melawan penyakit komplikasi yang diderita, jantung dan diabetes. Sayangnya, beliau harus menutup usia tahun lalu pada tanggal 24 Oktober 2013. Ya dia adalah telah meninggal.

Hai, Bu ? Bagaimana kabarmu di syurga ? Baik kah ?

Bu, tahu tidak ? jika dulu aku tak percaya jika kau telah tiada, maka setelah kepergianmu, aku malah tak percaya jika kenangan tentangmu dulu adalah nyata. Itu seolah-olah hanya khayalanku semata.

Bu, tau adalah wanita terhebat yang pernah kukenal, kau mampu menghidupi kami , ke-enam anakmu dengan keringatmu sendiri. Kau melakukannya seorang diri. Tidakkah itu hebat ?  walau anak-anakmu nakal, walau anak-anakmu belum tentu dan sepertinya tak akan pernah bisa membalas semua jasamu.

Bu, aku tak akan pernah malu mengakui mu sebagai ibuku. Dulu, kau selalu menganggap dirimu bodoh, karena tak mampu mengenyam pendidikan. Hal itulah yang membuatmu berjuang sekuat tenanga  agar aku bisa sekolah dan tak hidup seperti mu yang hanya seorang pedagang biasa. Tapi aku bangga, dari rahimmu lah aku dilahirkan, dari rahim seorang pedagang lah aku dilahirkan. Kau sekalipun tak pernah lelah untuk berusaha mencukupi segala kebutuhan kami. Baik itu dari segi financial maupun kasih sayang. Berperan ganda sebagai seorang ayah dan ibu itu tak mudah, tapi kau selalu berusaha keras agar aku tetap merasakan kasih sayang seorang ayah.

Bu, semoga kau bertemu dengan ayah di Syurga.

Bu, masih ingat tidak ketika aku berkelakuan aneh dan dianggap gila oleh semua orang ? Aku ingat,bu. Saat  itu aku mengalami luka atas fitnah yang dilakukan oleh beberapa orang yang tak menyukai keluarga kita. Aku memendam semuanya dan tak menceritakannya padamu. Hal tersebut membuat aku melampiasan semua kemarahanku padamu . Saat itu kau berkata bahwa kau percaya pada ku. Kau berkata bahwa aku mampu menjadi orang sukses dan berguna bagi orang lain. Padahal sikapku saat itu sangat menyakiti hatimu, tapi kau malah memeluk ku dengan erat dan berkata seperti itu. Oh hati siapa yang tak sakit jika melihatnya..

Bu, aku sangat merindukan mu. Hampir setiap hari aku merindukan mu, aku rindu akan semua nasehatmu, aku rindu akan semua kecerewetanmu yang selalu mengkhawatirkan ku, dan yang paling aku rindukan adalah saat bercerita tentang banyak hal, entah itu mimpiku, sekolahku, atau apapun itu. Dengan penuh rasa penasaran kau akan menanyakan banyak hal padaku. Oh bu, aku sangat merindukan moment itu, aku ingin mengulangnya kembali.

Bu, mungkin sekarang kau telah bersama Tuhan, kau adalah malaikat pelindungku yang menyembunyikan sayapnya. Mungkin tugasmu untuk menjaga ku sudah selesai, dan kau meninggalkan ku. Sejujurnya, aku tak rela harus melepas mu pergi. Dan aku yakin kau pun tak akan pernah mau pergi meninggalkan ku, jika kau diijinkan untuk memilih.

Bu, aku akan selalu mengingat semua pesanmu dan aku akan mencoba menghidupkan mu di hatiku. Walaupun tugasmu untuk melindungi ku sudah selesai, tapi aku percaya bahwa kau masih mengawasi ku di syurga, sana. Jika bisa, ada dua hal yang ingin aku lakukan jika aku bisa bertemu denganmu. Pertama, aku akan mengatakan maaf dan terimakasih, kedua aku akan mencium tangan, kening dan pipimu, seperti yang sering kulakukan dulu.  Sayangnya berapa banyak pun harta yang kumiliki, aku tak akan bisa melakukan kedua hal itu. Waktu memang sangat berarti ya, Bu ? Dan kau pun orang paling berarti yang mungkin baru  kusadari.

Bu, surat ini akan kukirimkan untuk lomba. Jika menang, aku akan memberikan ini sebagai hadiah terakhirku untuk mu. Kurasa, beribu rasa Terima kasih tak akan pernah cukup untuk membalas semua ketulusanmu dan beribu bahkan berjuta kata pun takkan mampu menjabarkan sosok tulusmu. Aku mencintai mu, Bu. Akh aku seharusnya mengecupmu saat mengucapkan itu, tapi sayang kau tak ada disini. Selamat tinggal,bu. Lain kali aku akan menuliskan surat lagi untuk mu .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s