Lelaki

Langit menatap nanar pada tumpukan surat yang ada di hadapannya. Dia tahu hari ini akan segera tiba. Hari di mana dia harus kehilangan seseorang. Lagi. Entah untuk keberapa kali. Dan bodohnya lagi hal itu terjadi karena keangkuhannya.Egonya yang terlalu besar.

”Ini untuk yang terakhir kalinya aku bertanya, Kamu akan menikahi ku,kan ?” Mata berwarna coklat pekat itu sedang menatapnya intens. Sedang langit hanya mampu berdiam diri. Bahkan tatapannya malah menari-nari ke setiap penjuru toko.

Hari itu, Dia tiba-tiba hadir tanpa diketahui oleh Langit. Memang sebelumnya dia mengabarkan akan mengunjungi toko souvenir milik langit. Katanya dia hanya ingin melepas rindu setelah beberapa bulan terakhir mereka tak bertemu. dan setelah insiden yang membuat hubungan mereka merenggang dan hilang komunikasi selama beberap bulan. Tapi, langit sudah dapat menduga maksud dari kedatangan gadis berparas blasteran jawa-Inggris ini. dan langit pun hanya mampu mengiyakan permintaannya. Langit tak menyangka bahwa dia akan mengatakan hal itu dengan begitu cepat, tanpa basa-basi. Bahkan ketika dia baru datang.

”Aku, belum siap. Kamu tahu sendiri,kan, aku baru mulai usaha. Aku belum siap untuk menikah.”

”Langit, Aku tahu. Tapi pernikahan tidak akan membuat kita miskin. Jika memang itu mau mu aku tak bisa berbuat apapun. dua bulan lalu, seseorang datang ke rumahku. Dia ingin melamarku. Dan orang tuaku lebih merestui Dia daripada kamu.”

”Aku mau menikahimu, aku mau menikahimu. Tapi tidak sekarang, kamu mengerti,kan ?” Langit kehabisan kata-kata. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan dia. beberapa kali langit mengacak rambutnya keras, matanya memerah dan berkaca-kaca. Sejenak dia merasa menjadi seorang lelaki paling cengeng di dunia.

”Tidak bisa, bulan depan aku harus menikah dengan Dia. Seseorang yang telah melamarku.”

”Jadi, hubungan kita berakhir ? Setelah 7 tahun kita berpacaran ? Ini gila?!” Langit tak terima. Dia Meracau tak jelas. Sedang gadis di hadapannya hanya mengangguk lemah, sebagai jawaban dari pertanyaan langit. Sepersekian detik berikutnya dia pergi begitu saja meninggalkan langit yang masih bergeming di tempat.

Langit tahu ini salahnya. Dulu ketika Gadis di hadapannya mengenalkannya pada orang tuanya, ketika dia ditanya oleh orang tua gadis itu, langit tak memberikan jawaban pasti.

”Saya akan menikahi anak bapak. Pasti! Bapak tak perlu khawatir. Tapi tidak dalam waktu dekat.” Tak ada keraguan sedikit pun di hati langit. Tatapan matanya tajam, sarat akan keyakinan. Dan Pak Marli hanya mampu menatap langit. Mencoba mencari kejujuran atas jawaban langit.

Dengan tegas dia berkata, ”Jika kamu menyakiti anak saya, saya tak akan mengijinkan kamu menikahi dia.”

”Tidak akan. Saya akan melindungi dia.”

Penyesalan tiba-tiba saja menghimpit hatinya. Memberikan rasa nyeri yang tak terkira. Sebuah hal bodoh yang tak seharusnya dia sesali sekarang. Langit membereskan semua surat di hadapannya. Dalam amplop tersebut tertulis ‘Untuk langit, seseorang yang aku cinta.’ Lalu, di bagian belakang amplop itu tertulis sebuah nama yang akan membuat kuping langit melengking ketika nama tersebut di sebut.Pelangi.

”Ayo, pergi! Kamu harus menghadiri pesta itu.” Langit masih terdiam. Tak menjawab maupun tak menyanggupi wanita paruh baya di hadapannya.

”Kamu lupa ? Kamu sudah melepaskan seseorang yang kamu cintai, hanya karena sebuah keegoisan dan ketakutan tak berujungmu.”

Bu Risa, seseorang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Kini dia tengah menyodorkan sebuah undangan berwarna hijau toska. Dan  membuat langit pedih ketika melihat isi undangan itu. Membuatnya ingin langsung merobek ataupun membuang undangan tersebut. Pelangi & Badai. Hatinya pilu menatap undangan tersebut. ada ribuan aliran listrik yang seolah-olah menyengat hatinya. ada sebuah getaran yang membuat hatinya kebas. Dia bangkit dari tempat duduk hendak beralih ke ruang design toko souvenirnya, hanya di sana dia merasakan sebuah ketenangan. Sementara itu seiring langkah kakinya semakin jauh, suara sang ibu masih terdengar samar di telinga.

”Sudahlah, kamu hanya perlu menerimanya. Wanita bukanlah sebuah permainan yang hanya bisa kau mainkan. Bukan juga sebuah barang disebuah toko yang hanya kamu pegang. sebagai ayah, Pak Marli ibarat seorang penjual yang tak rela putri kesayangannya di sentuh tanpa dimiliki seutuhnya.”

”Kau, lelaki. Lain kali harus lebih tegas dalam suatu hal.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s