Quarter Life Crisis

Quarter-life-crisis

Sumber

Ada beberapa hal yang selalu dipikirkan oleh seseorang di usia 20an,diantaranya :

  1. Akan menjadi apa saya nanti ?
  2. Dengan siapa saya akan melanjutkan hidup (menikah) ?

Dua hal itu akan terus dipikirkan oleh beberapa orang saat usianya mencapai 20an. quarter life crisis. Ya begitulah orang-orang menyebutnya.  Usia 20an memang usia yang rentan, usia di mana seseorang mulai mencari jati dirinya, usia di mana seseorang dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan-keputusan yang akan menentukan kelangsungan hidupnya di masa depan. Dan saya pun mengalami masa-masa tersebut. Sedang mengalami lebih tepatnya. Akhir-akhir ini, ada beberapa keresahan-keresahan akan masa depan yang terus menghantui pikiran saya. Salah satu di anataranya adalah ‘Akan menjadi apa saya nanti ?’.

Pertanyaan itu terus saja berdengung di telinga saya. Membuat saya kadang kerepotan menjawabannya. Wajar memang jika saya menanyakan hal seperti itu, saat usia saya sudah mencapai 20 tahun lebih, dan ketika saya melihat bahwa teman-teman saya sudah menjadi “orang”, sedang saya masih begitu-begitu saja. Merasakan hidup seolah-olah stagnan. Tak maju dan tak bisa mundur. Itu benar-benar menyebalkan. Saya seperti mengalami krisis identitas. Tak tahu harus berbuat apa dan tak tahu ingin melakukan apa. Hingga pada akhirnya pernyataan dari kakak saya benar-benar menyadarkan diri saya, membuat saya kembali ke dunia nyata. Membuat saya tertampar sedemikian hebat dan terus merenunginya berkali-kali.

”Pola pikir kamu salah. Selalu mikirin hal yang belum tentu terjadi, padahal hidup itu cuma perlu dijalani bukan dipikirin. Kalo pun apa yang kamu pikirin jadi kenyataan, yang penting kamu udah berani ngambil keputusan.”

Begitulah isi nasehat dari kakak saya. Saya benar­-benar tertampar oleh nasehat itu. Dalam nasehat itu, saya seperti mendapatkan sebuah jawaban yang baru saya sadari. Saat itu juga saya langsung merutuki diri saya sendiri. Kadang kita tak tahu bahwa hidup itu hanya perlu dijalani, tak perlu kita pikirkan. Karena ada sutradara kehidupan yang sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa, kita hanya perlu berusaha dan mempasrahkan hasil usaha kita. Hanya itu. Dan kadang kita tak menyadari bahwa keresahan yang selama ini kita miliki hanyalah hasil dari pemikiran kita. Coba pikirkan kembali, bukankah nyatanya hal buruk yang kita pikirkan selama ini tak pernah terjadi ? Dan karena hal itulah yang membuat langkah kita tersendat, karena itulah kita kadang merasa hidup kita stagnan. Ya, hal itu membuat kita takut dalam melangkah, membuat kita takut melakukan sesuatu. Yang ada dipikiran kita hanya segala resiko yang akan terjadi, resiko yang takut kita menanggungnya.

download

sumber

Melakukan yang terbaik hari ini dan berhenti memikirkan masa depan

Kunci untuk menghadapi quarter life crisis adalah melakukan yang terbaik hari ini. Bukankah masa depan kita tergantung pada tindakan yang kita lakukan hari ini ?  Kita hanya perlu berusaha dan melakukan yang terbaik semampu kita hari ini. Mencoba mensyukuri kesempatan yang telah Tuhan berikan hari ini. Today is present, right ? dan berhentilah memikirkan masa depan, biarlah masa depan menjadi sebuah teka-teki bagi kita, hidup akan lebih menyenangkan dengan sebuah kejutan dan tentu akan menjadi lebih berwarna. Percayalah bahwa kita hanya perlu melaluinya, tak perlu memikirkannya.

Advertisements

Deathdream 3

Tiga

Pagi ini aku begitu was-was pergi ke sekolah. Entahlah. aku tak mengerti. Semalaman setelah bermimpi seperti itu, aku tak bisa tidur, dari jam dua belas malem aku terjaga hingga pagi. Menyebalkan memang, tapi aku takut jika mimpi itu kembali menghantui tidurku.

Pagi itu kelas masih begitu sepi, hanya terlihat Satria yang entah mengapa tiba-tiba dia begitu rajin. Dia sedang membaca sebuah buku Biologi dengan serius. Aku melangkahkan kaki pelan, menghampiri nya.

“tumben amat loe belajar, biasanya juga dateng-dateng langsung tidur di kelas.” Dia tersenyum sekilas. Lalu kembali membaca buku.

“sat, ada yang mau gue ceritain sama loe,”

Satria menatapku, fokusnya langsung beralih padaku. Pelan dia berkata “apa ?”

Aku menghela nafas dalam, kuharap satria mampu menenangkanku dengan kata-kata bijaknya itu.

“gue mimpi buruk lagi. Loe tahu,kan ? setiap gue mimpi buruk, pasti itu pertanda kalau sesuatu yang buruk bakal terjadi lagi, bahkan lebih parah lagi kadang mimpi-mimpi gue jadi nyata. Sat, gue mesti ngapain ?” kataku frustasi.

Aku benar-benar frustrasi. Mungkin kalian akan menganggapku terlalu berlebihan. Tapi sungguh. Aku sudah beberapa kali mengalami hal ini, dulu sebelum ibuku meninggal, aku selalu bermimpi tentang seorang wanita paruh baya yang terkapar lemah di sebuah jalan kecil kompleks rumahku. Saat itu aku tak mengenali siapa wanita itu, hingga beberapa hari setelahnya aku bermimpi kembali, di dalam mimpiku, tubuh ibuku lah yang sedang tergeletak lemah tersebut. Beberapa minggu kemudian, peristiwa tabrak lari itu menjadi kenyataan, sama persis dengan apa yang aku impikan.

De javu ?!

Bukan, itu bukan de javu, tapi precognitive dream. Aku sering mengalami precognitive dream. De javu dan precognitive dream jelas berbeda, de javu hanyalah perasaan seolah-olah kita pernah mengalami suatu peristiwa yang nyatanya baru kita alami. Tapi, precogitive dream yaitu salah satu mimpi kita yang menjadi kenyataan, kita ingat pernah memimpikan suatu hal dan tanpa kita duga mimpi itu menjadi kenyataan. Dan coba bayangkan bagaimana menderitanya aku mengalami hal tersebut.

Satria menyentuh lembut pundakku. Membuatku tersadar akan prasangka dan ketakutanku yang semakin liar membayangi pikiran.

“Tenang aja, itu cuma mimpi. Percaya sama gue ! Gue bakal jagain loe!”

Tak ada sedikit pun kebohongan dari apa yang kudengar barusan. Tulus. Begitu tulus aku mendengarnya, tatapannya pun syarat akan ketulusan. Aku hanya mengangguk lemah. Setidaknya rasa takut ini berkurang setelah aku menceritakanya.

***

            Pak Bara menatapku lekat dan penuh arti. Beberapa kali dia menatapku dan kertas biodataku secara bergantian, dahinya berkerut beberapa kali. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

“Feriawan. jadi ayahmu bernama Feriawan dan ibumu bernama Natasha. Nama yang indah, perpaduan antara kedua orang tua. Siapa yang memberimu nama itu ?”

“ibuku, dia yang memberiku nama Devlin. Devlin itu artinya berani. Dia ingin anaknya menjadi gadis yang pemberani, ayahku lah yang mengusulkan perpaduan antara nama kedua orang tuaku.” Aku menjelaskan dengan seksama pada Pak Bara, baru kali ini ada seseorang yang merasa penasaran akan namaku. Aku melihatnya mengangguk pelan dan sebuah senyum penuh arti kembali terbingkai di wajahnya yang mulai menua itu.

“oke, terimakasih atas penjelasanmu, nama yang menarik. Tolong katakan pada Suci untuk segera menyerahkan biodatanya, karena hanya dia yang belum mengumpulkan biodata untuk keanggotaan mading. Dan kamu, Devlin. Jangan lupa dengan tugasmu sebagai ketua mading untuk hadir  pada rapat minggu depan!”

Aku mengangguk pelan, setelah itu berlalu pergi dari hadapannya. Banyak keanehan yang aku rasakan pada Pak Bara. Entahlah, hanya saja, aku merasa Pak Bara terlalu banyak menunjukku, dimulai dari hari pertemuan pertama kami di kelas, dia memintaku menjadi seorang penanggung jawab kelas pada mata pelajarannya, seharusnya,kan,tugas itu diberikan pada ketua kelas ? Lalu Kemarin, Dia tiba-tiba saja meminta ku menjadi kepala redaksi yang menangani masalah penerbitan materi dan berita di mading sekolah sekaligus merangkap sebagai ketua. Menurutnya aku mempunyai bakat dalam menulis dan itu cukup menjadi alasan mengapa dia menunjuk ku. Aku pun menerima tawarannya, ya walaupun memang merasa sedikit aneh, tapi karena memang aku menyukai dunia tulis menulis, itu cukup menjadi alasanku untuk menyanggupi tawaran beliau.

Suasana kelas sangat gaduh saat aku menginjakkan kaki di sana, kuarahkan pandangan pada beberapa orang yang ada di sana, mencari sosok kehadiran Suci. Ketika kulihat seorang gadis berambut hitam kecoklatan sedang mengobrol dengan seseorang di pojok kelas, segera saja aku berkata lantang “Ci, Loe disuruh cepet ngasih biodata ke Pak Bara, katanya cuma loe doang yang belum ngumpulin biodata buat jadi angota club mading.”

Gadis berambut hitam kecoklatan panjang itu mengangguk pelan, dan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda oleh perkataanku tadi.

Guru mata pelajaran Matematika hari ini tak bisa hadir dikarenakan beliau sakit dan itu bisa jadi ajang untukku tertidur walau hanya beberapa menit. Aku mulai meletakan kepalaku pada kedua tangan yang aku taruh di atas meja. Akh rasanya damai sekali, rasa kantuk mulai menggantung di pelupuk mataku.

Baru beberapa detik aku terlelap, terdengar suara gaduh dari arah pintu yang mampu mengusik kedamaianku. Samar aku mendengar suara berat seseorang yang memanggil namaku.

“ Devlin Natasha Feriawan! Di mana dia ?”

Aku membuka mataku perlahan, kulihat beberapa siswa tengah menunjuk kearahku. Satria pun tengah menatap ku intens.

Astaga … apa yang terjadi ini?!

“Devlin Natasha Feriawan!”  Kata lelaki itu lebih lantang.

“y-ya…..” aku menatap si pemilik suara berat nan lantang itu. Fadil. Ternyata Fadil lah yang tadi menyebut namaku.

Untuk apa dia datang ke kelasku ?

Dia menghampiriku seolah-olah ingin membuat perhitungan denganku, dan kalimat berikutnya yang ia lontarkan semakin memperjelas maksudnya.

“ Gue mau buat perhitungan sama loe?! Gadis sok jagoan dan pemberani, Gue peringatin loe kemarin, tapi loe malah nantang gue!!”Dia mengatakan itu sambil beberapa kali menggebrak meja di hadapanku, dan dia menatapku dengan bola mata yang seperti hendak melompat keluar. Mendadak aku gemetar, tapi aku tetap mencoba untuk tenang menghadapinya. Kau tahu ? di depan orang seperti Fadil, kita tak boleh terlihat lemah dan takut, kalau tidak dia akan semakin menakuti dan menyerang mu.

“Lalu, loe mau ngapain ? mau mukul gue ? pengecut loe ! beraninya mukul cewek.”

Aku balas menatapnya, terlihat kilatan kemarahan terlukis di wajahnya. Beberapa detik berikutnya dia langsung mencengkram kerah seragamku kuat, membuatku kesulitan untuk bernafas. Seolah ada benda tak kasat mata yang menghimpit paru-paruku.

Dia benar-benar ?! kukira dia tak akan berbuat seperti ini pada seorang perempuan.

“Gue bakal bikin loe ga nyaman sekolah di sini!!”

Dia bergegas pergi dari kelasku setelah mengatakan itu.

Hey ?! apa maksudnya itu ? dia sedang mengancamku ?

Astaga sepertinya hal buruk benar-benar akan menimpaku kali ini. Atau inikah maksud dari mimpi buruk yang kualami tadi malam ?

Merdeka

Bismillahirahmanirahim

merdeka

sumber

Kemerdekaan berasal dari kata dasar merdeka yang artinya adalah bebas (dari penghambaan, dan penjajahan) berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat; tidak bergantung kepada orang atau pihak lain; leluasa.

Hari ini merupakan hari yang special bagi bangsa indonesia. Hari di mana Indonesia lahir. Hari di mana indonesia diakui secara de jure. Ya kemerdekaan. Sudah ke 70 tahun indonesia merdeka, tapi pertanyaan yang masih terus saja digaungkan oleh masyarakat bangsa ni adalah ‘Sudahkah indonesia merdeka ?’ merdeka yang benar-benar merdeka.

Jika kalian bertanya pada saya sudahkah indonesia merdeka ? maka saya akan menjawab  ‘indonesia belum merdeka jika masih ada pemimpin-pemimpin yang terus berusaha untuk memerdekaan dirinya sendiri tapi tidak memerdekakan rakyatnya.’ Ya, menurut saya indonesia belum sepenuhnya merdeka. Rakyat masih merasakan kesusaah, masih banyak yang sering merasakan kelaparan setiap harinya. Jangankan mengenyam pendidikan dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, bahkan untuk makan saja mereka sulit. Selain itu, pernahkah kita melihat rakyat-rakyat indonesia yang tinggal di perbatasan sana ? mereka tinggal jauh di perbatasan, tanpa adanya sarana dan prasarana yang lengkap, mereka justru kadang seperti dianaktirikan tapi mereka masih mampu menjunjung tinggi rasa nasionalis itu, mereka dengan lantang dan bangga mengatakan bahwa mereka adalah rakyat indonesia walau kadang digoda oleh kemewahaan dari negera tetangga.

Sudah 70th indonesia merdeka, namun rakyat masih saja dibelenggu oleh kesengsaraan. Pemuda-pemudi sulit mendapatkan pekerjaan, mereka tak diberikan untuk menyalurkan skill yang mereka punya. Generas-generasi bangsa yang masih buta huruf dan terpaksa harus menghentikan sekolah mereka, padahal kita semua tahu bahwa pendidikan merupakan hal paling penting, di mana pendidikanlah yang dapat menempa setiap generasi muda menjadi lebih baik, pendidikanlah pilar utama yang mampu membawa perubahan tersebut, seperti yang pernah diucapkan oleh dedy corbuzier, bagaimana jika generasi muda-generasi muda yang ternyata dapat menguba indonesia itu justru tak sekolah ? Bagaimana jika generasi-generasi muda yang memiliki berbagai mimpi ide-ide cemerlang tersebut justru tak diberikan kesempatan sedikit pun untuk menggapai mereka ?  Ya indonesia belum merdeka sepenuhnya, masih banyak hal yang perlu dibenahi, masih banyak hal yang harus diperbaiki. Dan kita sebagai rakyat indonesia selayaknya dapat saling membantu satu sama lain, bahu membahu membangun indonesia menjadi yang lebih baik.

It just ny opinion. tidak terlalu penting juga sih ya opini saya, saya cuma pengen nulisa soal ini saja, karena tidak biasanya saya menuliskan hal yang seperti ini. sejujurnya agak takut juga sih menuliskan hal yang bersifat opini seperti ini, takut ada yang tersinggung ataua apaun itu. Tapi semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat. And the last i say dirgahayu republik indonesia yang ke 70th, semoga menjadi negara yang maju dan memerdekakan rakyatnya.

Deathdream

Dua

Dengan susah payah aku membawa bertumpuk-tumpuk buku yang harus aku berikan pada pak Bara. Sekitar tiga puluh buku lebih dan aku harus membawanya sendiri. Bisa kau bayangkan betapa repotnya aku,bukan ? Jam di pergelangan tangan kiriku masih menunjukan jam sepuluh pagi.

Sial. Tak ada kah seorang pun yang bisa menolongku membawa buku-buku ini ?

Diantara kerepotanku, aku terusik dengan suara gaduh yang berasal dari halaman belakang sekolah yang baru saja aku lewati dan tertutupi oleh deretan kelas. Tertarik. Aku pun pergi untuk melihat siapa yang sedang berbuat onar di saat koridor begitu sepi.

“tangkep tas gue !” suara berat seseorang panik. Aku menatapnya lekat. Okeh baiklah rupanya sedang ada seseorang yang mulai merasa bosan di sekolah dan memilih hengkang sebelum jam pelajaran berakhir.

Kutarik tali tas yang hendak ia lemparkan, sebelumnya aku meletakan buku-buku menyebalkan yang kubawa terlebih dahulu di lantai.

“Siapa loe ? Lepas ! berani banget loe ?!”

“Loe mau bolos,ya ? coba gue liat name tag loe!” aku menantang tatapannya, aku tak takut. Sedikit pun. Bukannya aku sok jagoan, hanya saja aku tak suka jika ada seseorang yang membolos, itu sama saja dengan dia membohongi orang tuanya, mungkin dia tak tahu bagaimana susahnya orang tua hanya agar dia bersekolah. Tapi yang diharapkan malah begini kelakuannya.

“Fadil… Fadil…. Oke, gue inget. Dan loe tinggal tunggu surat panggilan buat orang tua wali aja,ya?”

Aku sengaja tersenyum mengejek padanya. Dia terdiam, aku saja heran melihat tingkahnya. Bergegas aku membereskan dan membawa buku-buku yang tadi sempat aku letakkan, dan dengan segera pula aku pergi meninggalkannya. Tapi baru beberapa langkah, kurasakan sebuah tangan mencekal pergelangan tangan kiriku erat, menimbulkan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar seketika.

“Awas aja kalo loe berani laporin kejadian ini sama BP!”

Kutatap ia lekat, dari nada bicaranya jelas sekali jika dia sedang mengancamku.

Dia membalikkan tubuhku dan membuat ku kembali berhadapan dengannya, menggeser tanganku yang membawa tumpukan buku, dan dengan lebih tajam dia berkata “Devlin ! Devlin Natasha Feriawan. Ingat itu!” setelah melakukan itu dia pergi memanjat dinding belakang sekolah dan menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi. Aku hanya mengangkatkan bahu. Tanda bahwa aku tak terlalu peduli pada ucapannya.

***

“ Loe kemana aja dev ?” tanyanya ketika aku mengampirinya, yang membuat tatapan Sarah dan benny mengikuti ekor mata Satria. Aku hanya mengangkat bahu sama sekali tak menanngapi ucapannya.

“kalian tahu engga cowok yang namanya Fadil ?”

“Fadil ? jelas dong kita tahu. Emang kenapa sama Fadil ?” Dengan suara cemprengnya, Sarah begitu antusias menanyakan perihal Fadil.

“Tadi gue lihat dia bolos, terus gue laporin dia ke BP .”

Seketika itu juga mereka bertiga lantas menatap ku, tatapan yang tak bisa kuartikan. Dan detik berikutnya, dengan Heboh benny berkata “wah loe gila, dia tuh bahaya, banyak yang udah kena korbannya dia.”

Benny masih menatapku instens dan kasihan kah ? aku sungguh tak tahu, karena aku tak pandai membaca mimik wajah seseorang. Namun wajah khawatir sangat jelas diperlihatkan oleh satria ketika menatapku.

“emang Fadil itu siapa ? gue enggak kenal.”  Dengan tampang polos aku bertanya, dan mereka hanya mampu menggeleng pasrah kepadaku. Oke baiklah, tak perlu begitu. Dan kau! Tak perlu menganggap ku gadis paling cupu di sekolah. Asal kalian tahu saja aku baru pindah ke sekolah ini selama 2 bulan lalu. Dan rasanya tak perlu lah aku menceritakan alasan kenapa aku pindah ke sekolah ini. Dan satu lagi, temanku di sekolah ini hanyalah satria, sarah, dan benny. Sarah dan Benny merupakan teman satria, dan aku hanya ikut bergabung dengan mereka.

“hey ?! gue kan murid baru di sini jadi wajar kalo gue ga tahu.”

“ oke gue jelasin, Fadil itu terkenal sebagi siswa terbandel di sekolah ini, dia sering berbuat ulah jadi jangan heran ketika loe pernah mergokin dia mau bolos. Dan satu lagu yang paling penting! Dia itu terkenal punya tempramen yang buruk. Siapa saja yang berbuat ulah dengannya pasti akan dia buat perhitungan. Banyak siswa yang udah jadi korbannya dia.”

Dengan antusias Benny menceritakan betapa ngerinya fadil sambil sesekali dia menengguk es lemon teanya.

Mendadak aku bergidik ngeri saat mendengar cerita benny. Dan sial bagiku yang telah berani menantangnya.

“Loe  jangan sampe bikin masalah sama dia!” satria memperingatkan ku.

Astaga entah apa yang akan terjadi padaku besok. Dan rasanya bencana buruk akan menghampiriku besok…

***

Gelap. sunyi. Aku mendapati diriku berjalan tak tentu arah mengelilingi beberapa pohon yang menjulang tinggi dan gelap itu. Dimana kah ini ? hutankah ?

Angin berhembus lembut di tengkukku. Memberikan rasa ngeri tak terkira. Keringat dingin mulai mengucur deras di tubuhku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Entah perasaan apa ini, tapi aku merasakan ada seseorang yang terus mengikutiku, dan beberapa kali itu pula aku harus menolehkan kepalaku ke belakang ataupun ke samping, hanya sekedar berjaga-jaga barang kali ada seseorang yang benar-benar mengikuti.

“Satria… Satria…” sudah beberapa kali aku memanggil satria, namun suara seraknya sama sekali tak menghampiri gendang telingaku. Bunyi burung gagak semakin membuat tengkukku bergidik takut. oh ayolah dimana kah ini ?

Masih dengan kebingunganku, samar aku mendengar langkah kaki yang mendekat, suara langkah kaki yang diseret seolah-olah kakinya sangat sulit untuk digerakkan. Aku berbalik  kebelakang, saat itu juga aku melihat seseorang. Tidak ! sosok misterius ! Ya sosok misterius yang menyeramkan itu mengenakan baju hitam dan celana yang senada dengan warna bajunya,wajahnya ditutupi oleh masker, tak lupa sebuah topi hitam pun bersarang di kepalanya.  Dia membawa cangkul yang diseret dan dibiarkan menyentuh tanah, sehingga menimbulkan suara aneh ketika dia berjalan.

Sret sreeettt sreeettt sreeet sreettt

Aku terpaku. Tubuhku kaku seketika. Aku benar-benar tak bisa menggerakan tubuhku. Keringat dingin semakin deras mengalir. Bahkan rasanya bajuku sudah basah oleh keringat. Jantungku berdetak sangat cepat seperti baru saja turun dari permainan pemacu adrenalin di aman bermain.

“tolong…tolong…”

Sial. Berkali-kali pun aku mencoba berteriak, tapi hasilnya selalu saja nihil, tak ada suara sedikitpun yang keluar dari kerongkonganku. Hanya seperti bisikan lirih dan hembusan nafas lemah. Beberapa kali juga dia mencoba mengayunkan cangkul ke arahku.

Sosok misterius itu semakin mendekati ku, wajahnya tak begitu jelas, hanya terlihat seringai kecil di bibirnya yang tak tertutupi jubah. Jantungku berdegub sangat cepat, tubuhku pun bergetar hebat, peluh sudah membasahi sekujur tubuhku, menetes dari dahi hingga melewati wajahku.

Sial. Apa yang harus kulakukan ? Seseorang kumohon tolonglah!

“AAAAAAAAAA……….P-papah……” Teriakku kencang yang memenuhi seluruh sudut ruangan kamarku. Buram. Itulah yang pertama kuliat ketika mataku terbuka.

Tangan lembut seseorang sudah bertengger di pundakku  “ kamu kenapa, nak ?” Papah. Dia berkata lembut. Tak ada suara yang mampu keluar dari mulutku. Tubuhku masih bergetar hebat, Keringat dingin semakin banyak membasahi wajahku. Otakku masih linglung, tak mampu menangkap apa yang terjadi. Mimpi itu seolah-olah nyata.

Dengan segera kupeluk papah erat, membiarkan rasa takutku luntur dengan hangatnya pelukan beliau.

Malam ini merupakan malam pertama kalinya aku bermimpi aneh lagi setelah kejadian ibu meninggal.

Oh ayolah!

Aku sudah tak mau berurusan dengan mimpi-mimpi yang aneh itu lagi. Kau tahu ? terakhir kali sebelum ibuku meninggal, aku sering bermimpi buruk dan melihat sebuah keranda mayat dalam bunga tidurku, lalu beberapa minggu berikutnya kejadian buruk menimpa ibuku.

Takut. Itulah perasaan pertama yang mencuat dari hatiku. Bukan. Bukan takut karena aku akan mati, aku takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi kembali pada orang-orang yang kusayangi.

lalu apa sekarang ? Mimpi ini bagaikan sebuah peringatan dan berusaha memberitahuku bahwa sesuatu yang buruk aka terjadi.  Jangan!!! kuharap jangan ada lagi hal buruk yang menimpa diriku.

Bersambung

Jadi Deathdream ini merupakan cerbung yang aku tulis di wattpad, dan aku berpikir untuk menuliskan kembali cerita ini di blog. nah, chapter sebelumnya ada di sini

Lelaki

Langit menatap nanar pada tumpukan surat yang ada di hadapannya. Dia tahu hari ini akan segera tiba. Hari di mana dia harus kehilangan seseorang. Lagi. Entah untuk keberapa kali. Dan bodohnya lagi hal itu terjadi karena keangkuhannya.Egonya yang terlalu besar.

”Ini untuk yang terakhir kalinya aku bertanya, Kamu akan menikahi ku,kan ?” Mata berwarna coklat pekat itu sedang menatapnya intens. Sedang langit hanya mampu berdiam diri. Bahkan tatapannya malah menari-nari ke setiap penjuru toko.

Hari itu, Dia tiba-tiba hadir tanpa diketahui oleh Langit. Memang sebelumnya dia mengabarkan akan mengunjungi toko souvenir milik langit. Katanya dia hanya ingin melepas rindu setelah beberapa bulan terakhir mereka tak bertemu. dan setelah insiden yang membuat hubungan mereka merenggang dan hilang komunikasi selama beberap bulan. Tapi, langit sudah dapat menduga maksud dari kedatangan gadis berparas blasteran jawa-Inggris ini. dan langit pun hanya mampu mengiyakan permintaannya. Langit tak menyangka bahwa dia akan mengatakan hal itu dengan begitu cepat, tanpa basa-basi. Bahkan ketika dia baru datang.

”Aku, belum siap. Kamu tahu sendiri,kan, aku baru mulai usaha. Aku belum siap untuk menikah.”

”Langit, Aku tahu. Tapi pernikahan tidak akan membuat kita miskin. Jika memang itu mau mu aku tak bisa berbuat apapun. dua bulan lalu, seseorang datang ke rumahku. Dia ingin melamarku. Dan orang tuaku lebih merestui Dia daripada kamu.”

”Aku mau menikahimu, aku mau menikahimu. Tapi tidak sekarang, kamu mengerti,kan ?” Langit kehabisan kata-kata. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan dia. beberapa kali langit mengacak rambutnya keras, matanya memerah dan berkaca-kaca. Sejenak dia merasa menjadi seorang lelaki paling cengeng di dunia.

”Tidak bisa, bulan depan aku harus menikah dengan Dia. Seseorang yang telah melamarku.”

”Jadi, hubungan kita berakhir ? Setelah 7 tahun kita berpacaran ? Ini gila?!” Langit tak terima. Dia Meracau tak jelas. Sedang gadis di hadapannya hanya mengangguk lemah, sebagai jawaban dari pertanyaan langit. Sepersekian detik berikutnya dia pergi begitu saja meninggalkan langit yang masih bergeming di tempat.

Langit tahu ini salahnya. Dulu ketika Gadis di hadapannya mengenalkannya pada orang tuanya, ketika dia ditanya oleh orang tua gadis itu, langit tak memberikan jawaban pasti.

”Saya akan menikahi anak bapak. Pasti! Bapak tak perlu khawatir. Tapi tidak dalam waktu dekat.” Tak ada keraguan sedikit pun di hati langit. Tatapan matanya tajam, sarat akan keyakinan. Dan Pak Marli hanya mampu menatap langit. Mencoba mencari kejujuran atas jawaban langit.

Dengan tegas dia berkata, ”Jika kamu menyakiti anak saya, saya tak akan mengijinkan kamu menikahi dia.”

”Tidak akan. Saya akan melindungi dia.”

Penyesalan tiba-tiba saja menghimpit hatinya. Memberikan rasa nyeri yang tak terkira. Sebuah hal bodoh yang tak seharusnya dia sesali sekarang. Langit membereskan semua surat di hadapannya. Dalam amplop tersebut tertulis ‘Untuk langit, seseorang yang aku cinta.’ Lalu, di bagian belakang amplop itu tertulis sebuah nama yang akan membuat kuping langit melengking ketika nama tersebut di sebut.Pelangi.

”Ayo, pergi! Kamu harus menghadiri pesta itu.” Langit masih terdiam. Tak menjawab maupun tak menyanggupi wanita paruh baya di hadapannya.

”Kamu lupa ? Kamu sudah melepaskan seseorang yang kamu cintai, hanya karena sebuah keegoisan dan ketakutan tak berujungmu.”

Bu Risa, seseorang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Kini dia tengah menyodorkan sebuah undangan berwarna hijau toska. Dan  membuat langit pedih ketika melihat isi undangan itu. Membuatnya ingin langsung merobek ataupun membuang undangan tersebut. Pelangi & Badai. Hatinya pilu menatap undangan tersebut. ada ribuan aliran listrik yang seolah-olah menyengat hatinya. ada sebuah getaran yang membuat hatinya kebas. Dia bangkit dari tempat duduk hendak beralih ke ruang design toko souvenirnya, hanya di sana dia merasakan sebuah ketenangan. Sementara itu seiring langkah kakinya semakin jauh, suara sang ibu masih terdengar samar di telinga.

”Sudahlah, kamu hanya perlu menerimanya. Wanita bukanlah sebuah permainan yang hanya bisa kau mainkan. Bukan juga sebuah barang disebuah toko yang hanya kamu pegang. sebagai ayah, Pak Marli ibarat seorang penjual yang tak rela putri kesayangannya di sentuh tanpa dimiliki seutuhnya.”

”Kau, lelaki. Lain kali harus lebih tegas dalam suatu hal.”

Twitter Buzzer is The New Kind of Advertising

Actually it is my task of sociolinguistics for final test

I will tell about twiter buzzer briefly. Twitter is the one of most popular social media in Indonesia. Many people use twitter and then there are five hundred billion people use it. Even indonesia is on the oder to five of the other state. Twitter is different from other social media, because twitter is a micro-blogging that people can make their identity or personal branding there. Because of it, The produser or a company who produce some brand use twitter buzzer for promotion their brand.

So what is the twitter buzzer ? twitter buzzer is someone who have many followers until one thousands or one billion. They have personal branding or social identity for promotion their twitter account. Such as they tell about Shcolarship, problem, phoems or their feeling. They are usually called “selebtwit”. For your information, They are paid for recommending and promoting some product. They will promote the product with write a tweet of information about the product promoted and they will also mention twitter account who sells it. But  in the abroad, Twitter buzzers is not to known as in Indonesia where its community need recomendation or suggestion when will buy the product. Nevertheless Twitter buzzer is also give a tweet of important information such as about healty, tips and trick, and ect.

Now, i will tell about the topic that i choose for this artcle. The topic that i will tell is Language and the media and the sub topic is Language, Society and virtual world. According to me, twitter buzzer is the one of many example of language, society and virtual world. For the first, as i tell above that twitter buzzer always make their identity differnt each buzzer in virtual world, especially in twitter. They will make some tweet that people like or they will give some tweets of information that people need in twitter.  They are so creative person. Because of it, people can assumpt about their identity based on what they say, what they think and how they say it. There many buzzer that have different identity, such as the bad guy, romantic poet, lady fashion, ect. In twitter they gather and make a group which the members have many identicalness each others. They interact each other through the virtual world eventhough they are geograpically scattered thousands of miles away. The twitter buzzer also have  netiquette. They don’t spamming in twitter, and usually they write a tweet based the personal branding made by themselves. Based on article that have been read by me, twitter doesn’t forbid twitter buzzer’s activities, eventhough it doesn’t gives the advantages to head for twitter.

In her study a community protest,Laura Gurak (1996) makes the point from Marketplace :house holds’s about ‘rhetorical communities’ that diverse group of people can participate in protest and campaign via internet or cyberspace. How the cyberspace provide the room to people for action and protest about anything. It explain that the cyberspace is a socially powerful community. Same with Laura Gurak’s opinion, Now cyberspace also can be an effective social media advertising. Twitter Buzzer for the example, now twitter buzzer is the new kind advertising in Indonesia.  Twitter Buzzer is indeed a highly effective for advertising, and the tweets written by twitter buzzers give the influence by other people, because they  use language that we won’t realize that they were promoting some product. And we will think that what written is their virtual realities. For the example

“ Gimana ga mabok, Buka puasanya pake martabak 8 rasa @markobar1996 sebanyak ini…”

“Fix, #XperiaZ cocok buat yang suka fotografi, kameranya 13MP dengan sensor ExMor RS, Hasilnya canggih *Cc @SonyXperiaID”

We can see, that we will not realize that it’s a advertisment. We think that it’s just their virtual realities. And then many people who have to ask to them for recommending some product. It means that how big effect given by them. I hope, we have to outline of the information we read.