Mimpi Kita Terajut di Sawarna

sawarna

Saat itu hujan mengguyur daerah jakarta. Aku masih terpaku di kelas akuntansi yang sudah berakhir dari beberapa jam yang lalu. Di depan ku ada Sarah, Vina, dan Tari, mereka tengah mengobrol kecil dengan suara yang saling beradu dan lantang. Aku tersenyum menatap mereka, geli dengan kelakuan mereka. Dari jauh aku mendengar Vina berkata “Kita itu butuh liburan, Abis uas nanti kita liburan yuk?”

“iya, ayo kita liburan. Sumpek nih sama tugas.” Sarah tak kalah tertarik menanggapi ucapan Vina.

“iya, kita kan masih muda. Masa mentok mulu di kampus, jalan-jalan keliling indonesia itu keharusan, mumpung masih muda.”

Dalam hati aku mengamini perkataan Tari. Tari memang benar, barangkali kita mungkin memang harus mengunjungi beberapa tempat wisata di indonesia, bukan hanya sekedar untuk mengetahui betapa indahnya indonesia tapi lebih daripada itu, ada hal-hal yang memang harus kita lalui saat kita masih muda.

“ emang kalian mau liburan kemana ?” kataku. Tanpa terasa kakiku melangkah, menghampiri mereka perlahan.
Kami sempat berpandangan . lalu dengan lantang berkata “Sawarna…”

Detik itu juga, kami tertawa lepas,entah angin apa yang membawa kami hingga bisa mengatakan sebuah tempat yang sama. Mungkin memang chemistry kami sudah begitu dekat hingga mampu membaca pikiran di antara masing-masing. Kami memang termasuk pemuja senja. Senja berwarana keemasan itu selalu memberi rasa tersendiri bagi masing-masing di antara kami, selain itu ada kenangan tersendiri yang mendasari alasan kami menyukai lukisan sang maha kuasa yang begitu indah itu.

Perlu kuperjelas sebelumnya, kami merupakan empat orang sahabat yang dipertemukan oleh takdir Tuhan di sebuah universitas swasta di Jakarta. Tak ada yang mendasari persahabat kami, kami hanya merasa cocok dan mempunyai begitu banyak kesamaan yang sama.

“Bagaimana kalau acara liburannya kita lakuin setiap setelah uas.” Kembali Vina mengusulkan sebuah ide yang begitu menggiurkan bagi kami, aku kembali menyetujui usulnya dalam hati.

“Boleh.. boleh.. tapi setelah uas bulan depan kita harus pergi ke sawarna.. akh sawarna we’re coming.” Tari berucap dengan semangat.

“akh ga usah bikin planing dulu deh, satu aja belum jadi udah mau pergi lagi ke tempat yang lain. Lebih baik mulai sekarang kita persiapin aja buat acara liburan ke sawarna, dari mulai uang sama cari-cari informasi soal sawarna.”

Kami yang mendengarkan perkataan sarah si bijak hanya mampu mengangguk-anggukan kepala pelan.
Begitulah, sore itu dengan ditemani rintik hujan dan rasa dingin yang perlahan merayap di tubuh kami, sebuah obrolan kecil tercipta. Sebuah mimpi-mimpi yang indah tengah kami rajut perlahan, sedikit demi sedikit. Obrolan tersebut terus mengalir dan mengalir seperti air hujan yang telah jatuh saat itu yang mengalir ke berbagai tempat.

****
Barangkali, Kisah perjalanan kita hari ini mungkin akan menjadi kisah klasik di masa depan.

Sebuah mobil travel sudah terparkir indah di halaman rumahku. Hari ini aku, sarah, Tari dan Vina sudah bersiap-siap membawa tas-tas besar di tangan. Ya, hari ini kami akan melakukan petualangan, sebuah perjalanan panjang yang akan membawa kami pada sebuah makna tentang persahabatan, ada yang bilang jika kau ingin mengetahui sifat asli seseorang maka bawalah mereka pergi. Maka perjalanan ini, liburan ini akan menjadi sebuah ajang penilaian terhadap pribadi masing-masing di antara kami, di mana apakah setelah perjalanan ini kami akan mampu mempertahankan hubungan kami atau malah terjadi sebuah perselisihan yang akan berujung pada berakhirnya hubungan ini. Entalah kami semua tak mengetahuinya. Tapi satu yang kami ketahui pasti, Barangkali, kisah perjalanan kami hari ini mungkin akan menjadi kisah klasik di masa depan kami nanti, yang akan menimbulkan gelak tawa ketika kami mengingatnya atau malah akan menimbulkan keharuan ketika kami mengenang itu semua.
Pagi itu angka analog di pergelangan tangan kiriku menunjukan pukul 6 pagi, ya kami memang sengaja memilih berangkat pagi, karena memang tujuan kami pergi kesana adalah untuk melihat sunsetnya. Perjalanan dari Jakarta ke Banten diperkirakan sekitar sepuluh jam, dan jika tak ada halangan apapun maka kami dapat sampai di sana sekitar jam empat sore.
Suara derit ban yang beradu dengan aspal membangunkan tidurku. Pak Kasim, supir travel kami mengerem. Mobil kami sudah berhenti di tempat yang asing menurutku. Aku menatap lamat ke sekitar, kulihat Sarah dan Tari masih tertidur lelap seolah tak ada peristiwa apapun. Dari dalam mobil aku melihat pemandangan yang begitu indah, suasana pedesaan yang masih begitu sejuk. Aku membangunkan Sarah dan Tari, sedang Vina sudah bangun terlebih dahulu dan keluar dari mobil.

“ Neng, dari sini neng harus jalan untuk sampai ke pantai sawarna, soalnya mobil enggak bisa masuk. Mari bapak antar.”

Kami mengikuti arah kaki pak Kasim yang menghampiri sebuah jembatan kayu, menurut beliau jembatan kayu ini merupakan akses satu-satunya menuju pantai sawarna. Setelah beberapa meter berjalan akhirnya kami sampai di pantai yang banyak diperbincangkan oleh orang-orang tersebut. Hal yang pertama kali aku lihat adalah dua buah karang yang saling berhimpitan seperti sebuah layar kapal.

“Karang itu namanya tanjung layar. Itu merupakan ikon di sawarna. Mirip seperti di bond island thailand bukan ?” jelas Pak kasim. Kami menatap takjub pada karang tersebut.

“kalian bisa menginap di homestay yang biasanya disediakan oleh warga sekitar, tarifnya Rp.150rb perorang untuk satu malam.”

Kami pun diajak Pak Kasim untuk mencari homestay yang nyaman dan dekat dengan pantai, tak aneh memang karena sepanjang perjalanan tadi kami memang melihat banyak rumah-rumah warga berjejer dekat pantai.

***

Kami duduk bersebelahan satu sama lain, pasir putih telah menempel di setiap sisi pakaian kami. Di tengah-tengah pantai ada beberapa orang turis yang tengah surffing. Tinggal beberapa menit lagi. senja. dia akan menampakkan keindahannya. Sambil menunggu, Sarah bangkit berdiri dan mengambil ikan bakar yang telah kami bakar sebelumnya. Kami bersenda gurau sambil menunggu senja.

“Suatu hari nanti, kita pasti akan mengingat ini. Kita pasti akan mengingat perjalanan ini.” Ucapku yang kuyakini hanya terdengar seperti bisikan karena kencangnya suara ombak saat itu.

“iya,, kita pasti akan mengingatnya.” Kata Tari menerawang
“aku harap kita akan seperti ini, kita akan tetap menjadi seorang sahabat selamanya, menggapai semua mimpi-mimpi kita bersama, saling mendukung, dan saling membantu satu sama lain, seperti apa yang sudah kita lakukan untuk bisa pergi ke sini, kalian ingat,kan ?”

kulihat mata Sarah berkaca-kaca. Ya untuk bisa sampai sejauh ini memang tak mudah, saat itu Sarah tak dijininkan untuk pergi berlibur bersama kami, alasannya hanya karena dia mempunyai penyakit asma yang sewaktu-waktu bisa kambuh kapan saja, dan itu membutuhkan perjuangan yang tidak gampang untuk mendapat ijin dari orang tua Sarah. Sarah benar seperti itulah gunanya Sahabat.

Mendengar ucapan Sarah, kami Saling berpelukan satu sama lain, tanpa terasa air bening mengalir begitu saja di pipiku dan di pipi ketiga sahabatku yang lain.

Ini tidak lucu.
Ketika senja datang kami justru saling menangis satu sama lain.

“ eh senjanya udah mulai tuh, udah jangan nangis lagi. Ayo kita senang-senang. Sayang nih momen kayak gini enggak diabadiin.”

“akh benar-benar itu.. lalu setelah ini kemana petualangan kita akan berlabuh ?”

“belitung, ayo kita pergi ke belitung.”

“Wah ayo kita pergi kesana, Laskar petualang.”
“Belitung, tunggu kami….”

Ya, seperti itulah sahabat. Mampu membuat sesuatu yang mustahil menjad mungkin.

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s