Deathdream

Sebenarnya cerita ini saya tulis juga di wattpad, tapi berhubung ada yang bilang sulit untuk mengakses wattpada, jadi saya share juga di sini.

happy reading…

Satu

Kuremas kuat sapu tangan usang berwarna putih itu. Sapu tangan dengan motif burung bangau dan terdapat dua buah huruf “R” di salah satu sudut bawah sapu tangan itu. Ada bercak darah kering juga di beberapa sudut sapu tangan itu. Aku terus meremas sapu tangan itu, mencoba mencurahkan rasa benci pada sebuah benda mati itu. Sapu tangan usang itu adalah petunjuk satu-satunya yang bisa membawaku pada pelaku pembunuhan ibu. Satu tahun lalu, Ibuku meninggal ditabrak lari oleh seseorang. Aku masih ingat bagaimana mengerikannya peristiwa itu.

Saat itu, Aku dan Ibu hendak menyebrang setelah pergi berbelanja bersama. Aku tak menyangka bahwa kegiatan belanja itu merupakan kegiatan terakhir yang bisa kulakukan dengan ibu. Tak ada lagi, dan tak akan pernah bisa kulakukan lagi setelah itu. Saat itu, keadaan jalan memang sangat lengang.. Aku berjalan jauh mendahului ibu, tanpa diduga mobil honda Jazz berwarna putih melaju sangat cepat dari arah berlawanan. Aku kaget, tak mampu melakukan apapun. Samar aku mendengar suara ibu berteriak.

“Devlin…..! Awas!”

Aku pasrah tak tahu harus melakukan apa, dan mobil itu pun sudah sangat dekat dengan jarakku kini. Tapi sebuah tangan mendorong ku kuat ke tepi jalan. Suara benturan terdengar begitu melengking di telingaku. Seketika itu tubuhku lemas, kulihat dengan jelas tubuh ibu tertabrak dan terpental hingga beberapa meter. Di tepi jalan yang lain aku melihat ibu yang begitu aku sayangi sudah terkapar lemah dengan darah segar yang tak hentinya
mengalir dari sekujur tubuhnya. Kuberlari cepat dan mendekap erat tubuh ibu yang berlumuran darah. Mataku memanas, air mata sudah berjatuhan tak terkira di pelupuk mataku. Ada rasa sakit tak terkira yang menjalari hatiku. Rasa sakit yang tak terbendung nyerinya.
Aku sempat mengutuk seseorang yang telah menabrak ibuku itu, Dan. Si pengemudi mobil putih itu pun sempat berhenti sekilas, serta membuka jendela mobilnya. Menatap melalui kaca spion lalu menoleh pada ku dan saat itu sangat jelas terlihat olehku bagaimana wajahnya.

Sial. Sunggh sangat sial.
Saat itu jalanan benar-benar sepi. Sangat dimaklumi karena jam memang sudah menunjukan pukul 11 malam, wajar jika jalan sangat sepi saat itu. Dan entah bagaimana, setelah kejadian itu polisi mengatakan bahwa ada sebuah sapu tangan yang tertinggal di tempat TKP, Mereka mengira bahwa itu milik ibuku. Tapi aku lebih yakin bahwa itu adalah milik si pelaku. Sejak saat itu aku selalu membawa benda terkutuk itu kemanapun, mencoba mencari tau siapa pelaku tabrak lari itu. Sudah sejak satu tahun peristiwa itu berlalu, tapi polisi tak sedikitpun menemukan pelakunya, bahkan tak ada petunjuk apapun yang mereka dapatkan. Tak ada cctv di tempat kejadian, Entah, bagaimana harus mencari si pelaku.

Seseorang menyikut tangan kiriku keras. Sekilas aku tersadar akan lamunanku itu, kejadian yang selalu aku anggap sebagai mimpi, ya mimpi buruk. Mimpi yang tak pernah aku harapkan. Setelah kejadian itu aku selalu dan hingga kini masih menganggap bahwa itu semua hanya mimpi buruk, dimana ketika aku terbangun semuanya akan berjalan seperti dulu. Hanya ada kebahagiaan dan ibu akan selalu menemaniku lagi.

“Pak Bara memangilmu beberapa kali.” Bisik satria yang lantas membuatku mengalihkan pandangan pada seorang pria paruh baya yang kini tengah berdiri di depan kelas dengan tatapan menuntut padaku.

Sungguh. Aku tak tahu apa yang tadi dibicarakannya.

Pak Bara merupakan guru baru di kelasku, ya di kelasku! Dia guru lama di sekolah ini, SMA 20 Pertiwi Raya. Dia telah mengajar bahasa Indonesia selama 10 tahun di sekolah ini, namun ini merupakan kali pertama kelasku, sebelas IPA dua diajar olehnya. Dia merupakan guru pengganti, karena guru sebelumnya sedang cuti hamil.

“perlu saya ulangi, Devlin ?” kata-katanya begitu tegas. Dengan tatapan juga tajam.

Tanpa menjawab, aku justru menatap satria dan meminta penjelasan padanya.

“Dia setuju pak, dia mau menjadi penanggung jawab atas semua tugas yang nanti bapak berikan pada kami.”

Aku menatapnya heran. Hey, apa-apaan ini ? apa maksudnya ?

Pak Bara tersenyum simpul, lalu berkata kembali “ pelajaran kali ini selasai, minggu depan kita lanjut dengan materi tentang membaca intensif.”

“untuk kamu Devlin, jangan lupa untuk mengkordinir teman-temamu agar mereka mengumpulkan tugas mengarang minggu depan dengan tepat waktu!”

Kepalaku menggaguk pelan sebagai jawaban atas perintah pak bara tadi. Detik berikutnya dia berjalan keluar kelas masih dengan gaya tegasnya seperti biasa. Dan aku pun mengalihkan pandangan pada satria yang masih asyik bermain game di gadgetnya.
“ loe, kok nyanggupin permintaan pak Bara ke gue sih ?”
“ya, daripada loe bengong mulu kayak orang bego gara-gara enggak merhatiin dan malah ngelamun. Loe ngelamunin peristiwa itu lagi ?”
Dia menatapku dalam, ada kekhawatiran yang begitu terlihat dari tatapan matanya. Tak ada jawaban dariku, aku malas menanggapi ucapannya. Aku yakin, sangat yakin bahkan. Dia pasti akan mengatakan bahwa itu sudah berlalu dan aku tak berhak untuk mendendam pada orang yang telah membunuh ibuku.

Itu gila ?!

Bagaimana mungkin aku tak menyimpan kebencian terhadap orang yang telah merenggut nyawa ibuku, malaikat paling berharga dalam hidupku. Bahkan jika ibuku tak dibunuh pun aku sangat sulit menerimanya, apalagi ini. Oh aku sangat membencinya.

“sudahlah, toh loe udah enggak suka mimpi buruk lagi,kan ?”
“ Iya, udah sejak satu tahun lalu gue udah enggak pernah mimpi buruk lagi.”
“syukurlah.” Dia tersenyum, dan sekali lagi entah mengapa aku merasakan kelegaan di setiap kata yang baru saja diucapkannya.

“Tapi, gue masih belum inget wajah si pelaku. Itu yang selalu gue sesali.”
Aku memang sempat melihat wajahnya, tapi aku mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), dimana aku aku kehilangan sebagian ingatanku sementara, dan sialnya, ingatn yang hilang itu tentang wajah si pelaku,jadi aku tak mengingat wajah si pelaku, bahkan walau sudah berpuluh kali aku melakukan hipnoterapi. Sungguh. aku berharap suatu hari nanti pelaku yang membunuh ibu bisa ditangkap dan dihukum dengan setimpal. Satria menepuk pundakku pelan, mencoba menguatkanku dan mungkin itu juga yang dia harapkan. Dia memang sahabat paling baik, dia selalu ada ketika aku dalam kesulitan, dan beruntungnya aku, karena Tuhan seolah selalu berusaha membuat kami bersama .

to be continued

Untuk yang ingin membaca kelanjutan cerita ini silahkan bisa dilihat di sini

Terimakasih sebelumnya

Advertisements

One thought on “Deathdream

  1. Pingback: Deathdream | My Life My Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s