Naif

Katakan saja padaku bahwa aku seseorang yang naif, aku tak masalah mungkin memang begitu adanya. Aku, aku sudah menutup diriku selama beberapa tahun dari dunia sekitar. Tidak, aku bukannya tak pergi kemana pun atau tak melakukan aktivitas apapun. Aku pergi kemanapun setiap hari, aku melakukan kegiatanku setiap hari secara normal. Tapi.. Tapi kadang aku tak pernah percaya terhadap orang-orang disekitarku. Ya, sebut saja bahwa aku seseorang yang naif. Aku melakukannya bukan tanpa sebab, aku sudah terlalu sering disakiti oleh orang-orang di sekitarku. Baiklah mungkin aku hanya sedang mencari pembenaran atau semacamnya. Tapi, Dulu aku begitu ingat bagaimana aku begitu percaya pada para temanku, aku sepenuhnya percaya pada mereka, kadang aku lebih mementingkan urusan dengan temanku daripada keluarga, dan pada akhirnya. Ya kalian tahu bahwa kadang teman bisa menyakiti kita bahkan dengan sengaja. Akh aku tak tahu apakah itu memang disengaja atau tak disengaja.

Lalu, aku pernah. Pernah difitnah dengan betapa hebatnya oleh beberapa orang. Aku diam. Aku mencoba tak menanggapi pendapat mereka. Tapi aku salah. Aku selalu berpikir bahwa aku baik-baik saja. Itu hanya hal kecil, nyatanya fitnah itu membawa luka yang dalam bagiku. Sejak saat itu aku lebih menutup diri. Aku mengasingkan diriku sendiri, selalu menganggap semuanya baik-baik saja. Hingga luka itu sulit untukku sembuhkan. Aku sering membentak ibuku tanpa aku ketahui apa salah ibuku sampai aku melakukannya. Semua orang, Anggota keluargaku menganggapku gila. Ya. Bahkan keluargaku sendiri pun menganggapku gila. Aku terima. Karena aku sudah tahu bahwa tak ada yang patut kita percaya di dunia ini, selain tuhan dan diri kita sendiri. Tapi sakit itu pasti.

Lalu, sekarang. Masih sama. Aku masih tak percaya pada beberapa orang. Efek paling buruk dari luka lama itu adalah aku tak pernah mempercayai orang lain. Aku tak pernah yakin jika ada seseorang yang mengatakan bahwa dia mencintaiku. Aku tak pernah yakin dan akan selalu terbelenggu dengan pikiran burukku jika seseorang berbuat baik padaku. Tapi itu adalah cara dan tameng dari dalam diriku untuk menghindar dari setiap rasa sakit. Ya kadang seseorang yang sudah terlalu sering disakiti akan lebih memilih menutup dirinya dan menganggap itu adalah hal paling baik yang dia lakukan.

Tapi semakin umurku bertambah, semakin aku menemui banyak peristiwa dalam hidupku. Ada hal yang belum aku ketahui bahwa bukan seseorang yang menyakiti kita, tapi terkadang ekspektasi kita tentang orang lain lah yang berlebihan, kadang kita lah yang menyakiti diri sendiri. Aku sekarang tahu, bagaimana caranya tetap menjaga hatiku, bagaimana caranya tetap menjaga pikiran positifku terhadap orang lain, ya aku tak pernah mau berharap apapun dari mereka. Itu adalah cara paling baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s