Mimpi Itu Menguatkan kita

Mimpi itu menguatkan kita
Bismillahirohmanirohim

Karena kita punya mimpi dan kita pernah gagal.

Bicara soal mimpi rasanya tak akan pernah lepas dari sebuah kegagalan, tak akan lepas pula dari sebuah rintangan yang akan menguji kita untuk menggapai mimpi tersebut. Dan kali ini Aku ingin mencoba untuk menuliskan pengalamanku dalam menggapai mimpi. Ya walaupun mimpi tersebut belum terwujud hingga sekarang.
Mimpi, menurutku mimpi adalah sebuah harapan besar, harapan yang membuat kita percaya dan membuat kita mampu menghadapi apapun bahkan masalah paling berat sekali pun. Lalu, apa mimpi terbesar dalam hidupku ? dengan pasti aku akan menjawab, aku ingin pergi menuntut ilmu di luar negeri. Lucu ? tak apa, bahkan silahkan saja kalian tertawakan, karena aku sudah terbiasa ditertawakan dan diremehkan karena mimpiku itu. Tapi aku sudah tak peduli, ejekan mereka malah membuatku semakin bertekad untuk mewujudkan itu. Dan dari sini lah kisah perjuanganku dalam menggapai mimpi tersebut dimulai.
Pertama, mimpi pergi ke luar negeri itu tiba-tiba saja terlintas ketika aku sering mengunjungi blog-blog orang lain yang bercerita tentang pengalamannya menuntut ilmu di negeri orang, dan dari situ aku mulai membayangkan bagaimana jika aku yang ada di sana merasakan empat musim yang tak pernah ada di Indonesia, menikmati kebudayaan setempat dan masih banyak hal lain yang selalu aku bayangkan. Dan berikut potong syair dari imam syafi’i yang telah membuatku semakin bersemangat untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Maka dari kelas 2 SMA aku mulai bertekad untuk mewujudkan mimpi tersebut. Usaha pertamaku untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah aku belajar dengan keras untuk memperbaiki nilai semua mata pelajaranku, Aku sudah membuat list tentang apa yang harus aku lakukan, lalu saat kelas 3 SMA aku mencoba mengikuti seleksi masuk universitas negeri yang saat itu seleksinya diberi nama SNMPTN dan SBMPTN, namun dua kali aku gagal dan dua kali itu pula aku harus menelan kekecewaan. Aku terpuruk, tak tahu harus berbuat apa, hal yang sudah aku persiapkan dari dulu hanya membuahkan kegagalan, tapi berkat dukungan ibu , aku berusaha untuk bangkit dan kembali meraih mimpi tersebut. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di universitas swasta di daerahku. Semangatku sudah kembali dan kucoba untuk melupakan segala kegagalan di masa lalu, Tapi hal paling buruk kembali menerpa ku, orang yang paling aku cintai, orang yang membuatku bangkit ternyata harus pergi begitu cepat. Aku benar-benar terpuruk saat ibu diambil oleh Tuhan, bahkan jika boleh jujur aku sempat menyalahkan hidup yang tak adil, menyalahkan Tuhan yang begitu tega memberikan cobaan yang kupikir tak akan kuat untuk dijalani.
Dan hal terburuknya adalah pikiran untuk mengakhiri hidup sempat menghampiri, ya walaupun aku tidak merealisasikan pikiran yang berdosa itu. Aku benar-benar seperti orang yang tak memiliki jiwa, aku hidup hanya karena aku bernafas dan tak ada gairah sedikit pun untuk melakukan berbagai hal. Hanya seperti jasad yang hidup namun tak berjiwa, hampir setengah tahun saya menjalani hidup seperti itu. .
Hingga ucapan kakak perempuanku membuat aku tersadar,
“untung kamu enggak diterima di universitas negeri itu,jadi kamu bisa bantu jualan di rumah dan kamu kan bisa melihat wajah ibu untuk yang terakhir kalinya.” Deg. Saat itu juga aku berpikir apa yang kakak perempuanku katakan itu memang benar, jika aku diterima di universitas negeri favoritku yang letaknya jauh dari kota kelahiranku, maka aku tak akan bisa membantu berjualan di rumah (punya warung sembako di rumah) dan belum tentu aku bisa melihat wajah ibu untuk yang terakhir kalinya.. dan ternyata selalu ada hal yang bisa kita syukuri di balik kejadian yang menyedihkan, s-e-l-a-l-u. Akhirnya aku bangkit kembali, terpikir bahwa jika aku hidup tanpa semangat terus seperti ini, aku tak akan pernah bisa membuat bangga kedua orang tuaku yang telah dipanggil oleh Tuhan, dan mungkin aku hanya akan menjadi seseorang yang terus menyusahkan orang lain dan bergantung pada orang lain, tapi aku tak mau. Entah dari mana datangnya kekuatan itu, dengan semangat yang menggebu, aku mulai melakukan berbagai hal yang kuyakini akan membawa ku pada mimpi tersebut. Sebuah asa kembali kurajut, kucoba untuk mengikuti berbagai organisasi di kampus hanya agar membuat kupercaya dan yakin bahwa aku bisa! Aku bukan produk gagal! Ya kurencanakan semuanya dari awal dengan melakukan hal-hal kecil yang kupikir bisa membawa ku semakin dekat pada mimpiku, kuliah di luar negeri. Aku selalu percaya apa yang kita lakukan, meskipun itu terlihat tak penting, tapi sungguh tak ada yang sia-sia.. bukankah kita bisa melakukan hal-hal yang besar karena kita sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil ?

Mimpi itu menguatkan kita.
Banyak orang yang bertanya pada ku “kamu kok kuat banget menghadapi cobaan begitu berat ini?” dengan tersenyum aku menjawab ucapan mereka, karena memang aku pun tak mengerti mengapa sampai sekarang bisa bertahan, padahal dulu kupikir mungkin aku akan gila jika memang harus ditinggalkan oleh orang yang paling berarti dalam hidup ini, tapi nyatanya sampai sekarang aku masih berdiri dengan tegak, menghadapi persoalan yang semakin sulit, bertahan ketika ada banyak rintangan yang sepertinya berusaha untuk menjatuhkan. Tapi, setiap hari aku berpikir, tahu,bukan ? bahwa terkadang kita perlu menyendiri dan memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi semua masalah yang ada di depan mata yang rasanya siap untuk menjatuhkan kita, semakin kupikirkan aku justru merasa bahwa aku salah, masalah ada bukan untuk menyulitkn kita tapi masalah ada untuk menguatkan kita, bahkan terkadang kita lebih berpotensi dan melakukan hal yang luar biasa ketika kita sedang terhimpit oleh masalah, coba pikirkan lagi. Apa yang aku katakan benar,bukan ?
Lalu aku pun kembali berpikir, kebetulan beberapa bulan ini aku sangat rajin mengikuti lomba menulis, ya dapat ditebak semua lomba menulis yang diikuti oleh ku belum ada yang membuahkan hasil dan hanya berujung pada kegagalan, tapi entah mengapa aku malah merasa nyaman dan tak se-frustasi dulu ketika gagal, aku bahkan lebih memilih untuk merenung dan berpikir kesalahan apa yang kubuat sehingga sehingga bisa gagal ? dan bukan menyalahkan Tuhan bahkan orang lain. Rasa penasaranku justru semakin besar dan ada keinginan untuk terus mencobanya lagi, lagi dan lagi. Tak peduli pada hasil yang akan kudapatkan. Dari peristiwa tersebut aku sedikit menarik kesimpulan bahwa Kadang kegagalan membuat kita semakin kuat ,Kita akan semakin berusaha memperbaiki diri sendiri untuk mencapai kesuksesan dan sekarang kumengerti bahwa selama ini Allah sedang melatih mentalku agar mental seorang pemenang dan dimiliki oleh ku. Dan perlahan kumengerti bahwa mimpi lah yang membuat aku bertahan, ya selain kekuatan yang Allah beri padaku tentunya. Keyakinanku bahwa aku dapat meraih mimpiku, keyakinanku bahwa suatu saat nanti aku dapat meraih mimpi. Aku tak ingin menyerah, kenapa ? karena aku tak ingin menjadi seseorang yang menyesal di kemudian hari, dulu ibuku pernah berkata “ibu menyesal karena dulu tak berusaha mengejar mimpi ibu.” Dan sejak saat itu sudah kuputuskan untuk terus mengejar mimpiku, walau akan ada rintangan yang mencoba untuk menguatkan mentalku dan mencoba menggoyahkan kekuatanku. Tapi aku akan tetap berusaha.
“hal yang baru aku sadari, setelah ada hujan belum tentu ada pelangi, bahkan terkadang akan ada hujan kembali, begitulah seterusnya hingga perpaduan air hujan dan cahaya matahari akan membentuk pelangi.”
Itu merupakan isi pesan singkat yang kukirimkan pada seorang teman, sekaligus merupakan prinsipku bahwa akan ada hujan yang terus menghampiri kita. Namun hingga tiba saatnya, kita akan temukan pelangi. Seperti mimpi, akan ada kegagalan yang terus menghantui kita, namun hingga saat itu tiba, akan kita temukan sebuah kesuksesan itu. Aku jadi tak takut gagal, karena percaya bahwa aku akan melihat pelangi di hidupku. Ya like happy Ending story. Karena Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk kita. Sekian.

banner250x300

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba, bagi yang ingin mengikutinya bisa klik di sini

Advertisements

ALS dan Ice bucket challenge

ALS dan Ice Bucket Challenge

    Pernah mendengar ALS ? atau Ice bucket challenge ? ALS dan ice bucket challenge sedang terkenal saat ini, bahkan ice bucket challenge pernah menjadi trending topik di kalanngan artis dunia. Sebelum membahas ice bucket challenge, berikut saya paparkan tentang ALS itu sendiri.

    ALS atau Amyotrophic lateral sceloris adalah penyakit saraf yang saat ini belum diketahui penyebabnya, dugaan sementara penyebab penyakit ini adalah karena faktor genetik. Penderita penyakit ini tidak bisa menggerakkan ototnya dan bisa mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian, pasien diperkirakan hanya dapat bertahan hidup sekitar 4-5 tahun saja dan sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Mantan pemain baseball Lou Gehrig, berjuang melawan penyakit ini dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1941. nama Lou Gehrig pun dijadikan nama lain dari penyakit ini. Lalu apa hubunganya dengan Ice Bucket challenge, Ice bucket Challenge adalah dimana seseorang yang ditantang harus menyiramkan air es ke seluruh tubuhnya lalu di posting dan menantang tiga hingga enam orang untuk melakukan aksi tersebut, seseorang yang tak berani melakukannya harus didenda dan hasil denda tersebut untuk kepentingan penelitian tentang ALS. Ice bucket challenge sudah banyak dilakukan oleh artis-artis dunia seperti justin bieber, Taylor Swift, Jo In Sung, Eun Hyuk dan Dong Hae artis dari korea, lalu ada founder facebook Mark Zuckerberg, ada pendiri microsoft Bill gates . Mereka semua merekan video saat menyiram diri mereka dengan air es.

Berikut video saat jo in sung melakukan ice bucket challenge klik disini

Tentang Menulis

1387246247715

Apa itu menulis ? Menulis adalah kegiatan keabadian dimana seseorang akan dikenang melalui karyanya, ya itu menurutku.

Aku sudah tak peduli bagaimana tanggapan orang lain terhadap tulisanku, apakah itu menginspirasi, bermakna, atau memberikan pelajaran dan menarik. Yang kutahu pasti, aku hanya ingin menulis untuk diriku sendiri dan jika orang lain senang dengan tulisanku, itu merupakan suatu hadiah tersendri bagiku. Baiklah aku akui bahwa aku sangat menyukai menulis. Kenapa ? Karena aku lebih senang menuliskan apa yang aku rasakan dan apa yang terjadi dalam hidupku daripada harus menceritakannya pada orang lain. dan tentu aku pun menceritakannya pada Tuhan. Kau tahu ? Manusia biasanya selalu merasa masalah yang ia hadapi lebih berat daripada masalah orang lain. Itu wajar dan aku mengerti itu. Tapi jika kau menulis, tak ada yang akan menyalahkanmu, tak ada yang akan menganggapmu lemah.
Sebenarnya awal saya menyukai menulis itu karena hobby membacaku dan ya kalian pasti tau menulis dan membaca merupakan satu kegiatan yang tak pernah bisa dipisahkan, hingga akhirnya aku mulai tertarik untuk menulis, ya walaupun cuma menulis sebuah diary.

Aku pernah membaca di sebuah blog milik ka almeera febrianty, di sana beliau menuliskan bahwa menulis bisa merelease emosi. Dan aku harus membenarkan pendapatnya itu. Aku tak hanya sekedar menyetujui pendapatnya tapi aku pun merasakannya dan mengalaminya. Baiklah aku akan bercerita sedikit tentang pengalamanku, Ketika ibuku diambil oleh Tuhan, aku tak tahu harus menceritakannya pada siapa selain pada Tuhan dan aku terlalu malas untuk menceritakannya pada orang lain, Maka aku memilih untuk menulis setiap hari, menulis surat untuk ibuku setiap hari. Mencoba meluapkan rasa kehilangan dan kesedihan yang aku rasakan melalui tulisan, mencoba percaya bahwa ibuku akan membacanya dan perasaanku akan lebih baik. Dan ternyata seiring berjalannya waktu aku memang mampu mengontrol perasaanku itu. Berita baiknya adalah Karena kebiasaanku itu aku mampu menulis beberapa cerpen yang bertemakan tentang ibu. Memang cerpen itu belum aku publikasikan pada siapapun kecuali pada teman terdekatku. Dan ternyata hal yang sama pun dilakukan oleh pak BJ Habibie, mantan presiden nomor 3 di indonesia. Beliau menuliskan sebuah buku berjudul Habibie dan ainun. Beliau bahkan berkata bahwa buku itu sebagai obat atas rasa kehilangan dan kerinduannya terhadap sang istri tercinta. Ya menulis bisa dijadikan terapi dan penyembuh bagi seseorang yang terluka, tentu bukan fisiknya tapi psikologisnya.

Lalu aku pun pernah membaca bahwa menulis itu merupakan merapikan kenangan. Sebenarnya aku tak terlalu mengerti akan hal itu tapi setelah beberapa kali aku menulis untuk mengingat semua kenanganku tentang orang-orang terdekatku, aku baru mengerti. Menulis memang merupakan salah satu kegiatan merapikan kenangan. Di saat aku mengingat dan menyalurkannya melalui tulisan, aku mampu mengintrospeksi diriku sendiri, mampu menyadari kesalahan-kesalahanku yang lalu dan sebisa mungkin tak akan aku lakukan kembali. Serta ketika menuliskan semua kenangan itu semua orang akan membacanya dan kita pun akan terus mengingat kenangan itu melalui tulisan tersebut. Bukankah kemampuan otak kita tak secanggih komputer ? Bahkan komputer saja bisa rusak, bagaimana dengan otak kita ? Tentu kita tak ingin melupakan semua kenangan dalam hidup kita dengan orang-orang yang kita sayangi,bukan ? So menulislah..

Dan sekarang aku mulai membenci diriku sendiri karena aku sudah begitu jarang menulis. Padahal menulis adalah hal yang sangat aku sukai.