“Menyemangati orang lain itu mudah, yang sulit adalah menyemangati diri sendiri”

Advertisements

Hey, bapak ?? Bagaimana kumismu ?? Sudah lebih panjang dari dulu ? Atau bagaimana dengan ubanmu ?? Pasti sudah memutih semua jika kau masih hidup.

Bapak, ingat tidak dulu nia selalu bilang ”pak, nia pengen kayak mereka, bisa sekolah, jadi pinter, terus pengen kayak kakak-kakak nia yang lain, bisa sekolah yang tinggi.” ya aku selalu mengatakan itu ketika melihat anak sekolah lewat di depan rumah kita. Ingat kah, pak ? Akh bapak tak ingat ? Tak apa pak jika bapak tak mengingatnya karena itu memang sudah sangat lama. Dan aku pun tak yakin jika itu benar kenanganku denganmu.

Bapak itu sosok yang selalu aku banggakan, walau ibu kadang suka memarahimu dan kalian kadang bertengkar. Akh aku tak yakin ibu memarahimu karena benci, pasti di dalam hatinya sangat mencintaimu. Buktinya apa ? Kau pasti menanyakan itu. Buktinya ketika kau pergi ibu menangis meraung-raung memanggil namamu, dia bahkan sempat pingsan kala itu. Ya kadang orang yang sering bertengkar dengan kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Mungkin karena kalian sangat dekat jadi kalian sering bertengkar dan berbeda pendapat. Saat itu aku tak mengerti dan tak mau tahu mengapa kalian melakukan itu. Ya karena saat itu aku masih kecil dan otakku masih belum memikirkan hal apapun kecuali bermain dan jajan.

Bapak, maaf aku sekarang jarang merindukanmu. Rinduku padamu menguap dan berubah jadi merindukan ibu. Mungkin karena ibu belum terlalu lama meninggalkanku, jadi rasa rindu itu tak bisa terbendung. Dan lagi aku lebih lama hidup dengan ibu dari pada denganmu. Belum lagi aku memang selalu dekat dengan ibu dan lebih memilih dengan beliau daripada denganmu. Bapak, maaf jika aku dulu tak pernah mau tidur bersamamu walau beberapa kali ibu menyuruhku untuk tidur denganmu. Dan maaf aku kadang menghiraukan beberapa ucapanmu. Hingga akhirnya aku menyesal bahwa kau tak akan kembali, dan hanya ada kenangan menyedihkan disana. Akh aku tak mau bersedih dengan kenangan itu, bagaimanapun itu tetap kenangan kebersamaan kita dan aku akan merapikannya melalui tulisan ini.

Bapak, aku sekarang bukan anak kecil yang selalu bapak gendong dulu. Sekarang aku sudah besar tinggiku sudah mencapai 140cm lebih, coba kalau bapak masih hidup pasti aku bisa mengalahkan tinggi badanmu. Dan bapak tak akan bisa menggendongku lagi karena aku sekarang sudah berat,hehe..
Aku juga sudah lulus SMP, lulus SMA, bahkan sekarang sudah kuliah semester 2, do’akan aku terus pak agar aku bisa lulus dan mencapai cita-citaku.
uhmm aku baru sadar ketika menuliskan ini, bahwa terkadang apa yang kita impikan akan menjadi nyata di kemudian hari. Mimpiku untuk bisa sekolah SMP dan SMA menjadi nyata. Ya walaupun itu hanya impian kecil tak berarti dan hanya impian seorang anak kecil yang masih sangat polos…

Bagiku, bapak adalah sosok pelindung dalam keluarga. Kenapa ? Karena setiap aku berbuat kesalahan dan dimarahi, pasti bapak akan membelaku. Aku dulu merasa bangga ketika aku selalu dibela olehmu, ya itu karena aku tak mengerti, sekarang aku mengerti mengapa kau selalu membelaku, yaitu karena sebagai orang tua kita tak boleh terlalu berlebihan dalam mendidik anaknya, anak akan tertekan ketika orangtua terus memperlakukan mereka secara berlebihan bahkan memukulnya. Dan sekarang aku tahu, Baik ibu dan Bapak kalian selalu mengajarkanku bukan melalui ucapan saja tapi kalian memberikan contoh yang baik bagi anak-anakmu hingga mereka mengerti dan mengikutinya.

Bapak ingat tidak saat dulu bapak mengajariku untuk belajar mandiri dan lebih menghargai uang serta agar tak merepotkan ibu. Aku mengingatnya, bahkan aku melakukan hal itu. dulu kau selalu berkata agar aku selalu menabung jika ingin membeli sesuatu dan berpesan padaku untuk tak menyusahkan ibu. Saat itu kau memberiku celengan dan mengajariku menabung. Hingga saat ini aku selalu mengumpulkan uang jajanku jika aku ingin membeli sesuatu. Dan kurasa pesan tersebut selalu kau sampaikan pada anak-anakmu, karena kakak-kakak yang lain pun begitu.

Bapak itu penyemangat yang tak pernah aku sadari.
Aku akui aku memang seseorang lumayan malas saat kecil, dulu walaupun aku berkata ingin sekolah yang tinggi tapi aku selalu membolos dan jarang berangkat sekolah. Dan dapat ditebak hasil raportku merah semua, akh malu rasanya harus menceritakan ini. Tapi kau hanya berkata ”tak apa, yang penting naik kelas. Kamunya harus belajar yang rajin biar pinter. Jangan bolos aja. Katanya pengen kayak kakak-kakak kamu.” aku baru menyadarinya hingga saat ini, oh tidak bukan saat ini. Sebenarnya aku sudah menyadarinya, tapi aku tak terlalu mempedulikan hal itu. Aku menyesal karena hal itu.

Bapak, walaupun kau seorang yang pendiam dan jarang berbicara, tapi aku tahu dibalik diam itu kau amat sangat mempedulikan anak-anakmu. Hal yang paling kuingat dan merupakan hal termanis menurutku, saat itu kakiku bengkak. Dari kecil aku memang jarang menceritakan semua yang aku rasakan pada orang lain serta lebih memendamnya sendiri dan hal itu berlanjut hingga kini. Aku berjalan dengan terpincang bersama ibu, ibu yang melihat itu hanya berkata ”jangan dipincangin kalo jalan, nanti pincang beneran.” aku kesal sebenarnya. Tapi tak apa ibu kan memang tak tau aku sakit tapi dengan perhatiannya kau berkata bahwa kakiku sedang bengkak dan kau akan memijatnya. Akh aku tak tau kau tau darimana bahwa kakiku bengkak padahal aku tak menceritakannya pada siapapun.

Terakhir, kau adalah orang paling tulus kedua setelah ibu. Walau ibu selalu memarahimu karena kau lebih mengurusi orangtuamu daripada anak-anakmu dan dia, tapi aku tahu kau sangat tulus. Kau tahu bahwa orang tua sangat berjasa bagi dirimu, hingga kau rela merawat mereka dan mengabaikan kami. Aku tak marah akan hal itu, walau ibu marah tapi dia tetap mendukungmu dan membanggakanmu di depan anak-anaknya. Padahal yang aku tahu dari cerita ibu, kau itu tinggal dengan ibu tiri dan hal itu sangat menyiksa dirimu. Tapi kau dengan tulus dan ikhlas tetap merawat mereka. do’amu dikabulkan allah pak, dulu kau berkata pada ibu ”kalo bisa aku yang pergi duluan, karena tinggal dengan ibu tiri itu tak enak dan aku percaya kamu bisa mengurusi mereka.” hal itu ibarat sebuah pertanda bahwa kau akan pergi meninggalkan kami. Aku tak tau kapan kau mengatakan itu tapi aku pernah mendengar cerita itu dari ibu.

Bapak sekian surat ini aku tulis, kata beberapa orang menulis bisa merapikan kenangan dan aku ingin merapikan kenangan kita lewat tulisan ini.